Dampak Ekonomi Global dari Konflik AS-Israel vs Iran
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah menciptakan dampak dramatis yang merambat ke seluruh kawasan Timur Tengah dan dunia internasional. Pasar energi global serta rantai pasok mengalami kekacauan signifikan, memaksa banyak negara bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi yang berat.
Lonjakan Harga Energi dan Gangguan Maritim
Lonjakan harga minyak mentah yang sempat mendekati US$120 per barel serta gangguan terhadap lalu lintas maritim di Teluk, terutama di dalam dan sekitar Selat Hormuz, telah meningkatkan biaya operasional bagi konsumen dan pelaku usaha di berbagai belahan dunia. Namun, di tengah kekisruhan ini, beberapa negara justru menemukan peluang strategis baru yang dapat dimanfaatkan.
Rusia: Mencari Keuntungan di Tengah Konflik
Meskipun Moskow menerima pukulan diplomatik setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, disertai dengan tumbangnya Bashar al-Assad di Suriah dan penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela, konflik di Timur Tengah berpotensi memberikan keuntungan tak terduga bagi Rusia.
"Berkurangnya rudal Patriot dan pencegatnya menguntungkan Rusia karena membatasi apa yang bisa diperoleh Ukraina," jelas Nicole Grajewski, profesor di Pusat Studi Internasional Institut Ilmu Politik Paris. Alihnya sumber daya militer Amerika Serikat untuk menyerang Iran dapat mengurangi tekanan pada front Ukraina.
Di sisi ekonomi, penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang memicu lonjakan harga minyak memberikan sedikit keringanan finansial bagi Rusia. Anggaran federal Rusia yang bergantung pada ekspor minyak dengan harga US$59 per barel kini mendapat keuntungan dari harga yang melonjak tajam. Rusia berpotensi mengekspor lebih banyak minyak ke pasar penting seperti China dan India, terutama ketika produsen minyak utama di Teluk memangkas produksi.
China: Peluang Diplomatik di Tengah Tekanan
China sejauh ini belum merasakan dampak dramatis langsung dari perang tersebut, dengan hanya sekitar 12% minyak mentah yang diimpor berasal dari Iran. Negara ini telah menimbun cadangan minyak yang cukup untuk beberapa bulan dan dapat dengan mudah beralih ke Rusia untuk pasokan tambahan.
Namun, sektor industri Tiongkok yang berorientasi ekspor diperkirakan akan terdampak. Gangguan lalu lintas maritim di Selat Hormuz dan serangan oleh kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb menciptakan tantangan logistik yang signifikan. Neil Quilliam, pakar Timur Tengah dari Chatham House, memperingatkan bahwa pengalihan rute melalui Afrika selatan dan Tanjung Harapan dapat menambah waktu pelayaran 10 hingga 14 hari dengan biaya tambahan mencapai sekitar US$2 juta per kapal.
Di sisi lain, perang ini membuka peluang diplomatik bagi China untuk menampilkan diri sebagai "penyeimbang yang bertanggung jawab" terhadap Amerika Serikat. Presiden Xi Jinping kemungkinan akan memproyeksikan dirinya sebagai pemimpin global yang stabil, sekaligus mengamati bagaimana AS bereaksi terhadap titik-titik panas lainnya termasuk Taiwan.
Negara-Negara Berkembang: Menghadapi Dampak Terberat
Negara-negara di Asia Tenggara yang sangat bergantung pada minyak dan gas dari Timur Tengah diperkirakan akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang paling berat:
- Vietnam telah mengalami kenaikan harga solar sebesar 60% sejak perang dimulai, dengan pemerintah meminta warga bekerja dari rumah bila memungkinkan.
- Filipina yang mengimpor sekitar 95% minyak mentahnya dari Timur Tengah, menerapkan sistem kerja empat hari seminggu untuk pegawai sektor publik.
- Pakistan memberlakukan pembatasan serupa dengan pengecualian sektor perbankan, serta memindahkan kegiatan belajar-mengajar di universitas ke platform daring.
- Bangladesh menghadapi gelombang pembelian panik yang memaksa pemerintah menerapkan sistem rasionalisasi bahan bakar.
Ancaman Krisis Pangan Global
Dampak perang ini meluas jauh melampaui kelangkaan energi. Gangguan pada pasokan pupuk melalui Selat Hormuz dapat memicu krisis pangan global yang serius. Sekitar 30% urea dunia yang merupakan bahan baku utama pupuk melewati selat tersebut.
"Dalam enam hingga sembilan bulan ke depan, kita bisa saja melihat dampaknya pada keamanan pangan dan inflasi," tegas Quilliam. Ketika tanaman mengalami kesulitan tumbuh atau petani kesulitan mendapatkan pupuk, konsekuensi jangka panjang terhadap stabilitas pangan global akan semakin nyata.
Perang di Timur Tengah telah menciptakan lanskap ekonomi yang kompleks di mana beberapa negara menemukan peluang strategis sementara yang lain menghadapi tantangan eksistensial. Interkoneksi pasar global memastikan bahwa dampak konflik ini akan terus beresonansi di berbagai sektor dan wilayah dalam bulan-bulan mendatang.
