Penjual Tikar Ragunan Mengeluh Penjualan Turun Saat Libur Lebaran 2026
Penjual Tikar Ragunan: Pembeli Menurun Saat Lebaran

Penjual Tikar di Ragunan Hadapi Penurunan Pembeli Selama Libur Lebaran 2026

Nenek Ameh, seorang penjual tikar yang berjualan di depan gerbang Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan, mengeluhkan penurunan jumlah pembeli selama periode libur Lebaran tahun ini. Lansia berusia 60 tahun ini bukan penjual musiman; dia telah berjualan tikar di lokasi tersebut sejak tahun 2020 sebagai mata pencaharian sehari-hari.

Kondisi Ekonomi Keluarga yang Memaksa Berjualan

Nenek Ameh menjelaskan bahwa dia mulai berjualan tikar karena suaminya telah pensiun dari pekerjaannya sebagai Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP). "Saya jual tikar karena bapaknya sudah pensiun. Kan dia di PJLP, sudah enggak bisa, umurnya sudah 60, sudah enggak boleh kerja lagi. Sudah, menganggur bapaknya di rumah," ujarnya. Hasil penjualan tikar ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga mereka, mengingat suaminya tidak lagi bekerja.

Penurunan Pendapatan yang Signifikan

Dia mengungkapkan bahwa pada awal berjualan, khususnya di tahun 2020, dia bisa mendapatkan pendapatan hingga Rp 1,2 juta dalam empat hari dengan menjual tikar seharga Rp 10 ribu per lembar. Namun, saat ini, pendapatan hariannya hanya berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. "Lebaran ini agak sepi. Agak sepi, biasanya tuh satu ikat 50 lembar habis. Sekarang cuma 20-15, sepi. Enggak kayak tahun dulu tuh, ramai," jelas Nenek Ameh.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Faktor Penyebab Penurunan Penjualan

Nenek Ameh menduga bahwa penurunan penjualan ini disebabkan oleh banyaknya warga yang memilih untuk mudik ke kampung halaman selama libur Lebaran, sehingga mengurangi jumlah pengunjung di Taman Margasatwa Ragunan. "Memang lagi sepi, rezeki nggak ketukar, sudah diatur Tuhan. Pada pulang kampung semua (pengunjung). Kalau tahun kemarin kan banyak yang jalan-jalan, di sini enggak banyak," ucapnya. Situasi ini kontras dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kawasan tersebut masih ramai dikunjungi wisatawan lokal.

Meskipun menghadapi tantangan ekonomi, Nenek Ameh tetap berusaha menjalani hidup dengan ikhlas. Kisahnya mencerminkan dampak libur Lebaran terhadap pedagang kecil di ibu kota, yang bergantung pada arus pengunjung untuk kelangsungan usaha mereka.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga