Waisak di Borobudur: Destinasi Spiritual dan Budaya Penggerak Ekonomi
Setiap perayaan Waisak, umat Buddha dari berbagai penjuru dunia datang ke Candi Borobudur untuk menjalani perjalanan spiritual yang penuh makna. Melalui kirab, pradaksina, dan doa yang dipanjatkan di puncak candi, setiap langkah menjadi bagian dari refleksi dan penghayatan ajaran Buddha.
PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) terus mentransformasi Borobudur sebagai destinasi spiritual dan ziarah kelas dunia. Borobudur tidak hanya diposisikan sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang memiliki makna mendalam bagi para peziarah dan pencari ketenangan dari berbagai belahan dunia.
Perjalanan Spiritual Indonesia Walk for Peace
Salah satu perjalanan spiritual yang menjadi bagian dari perayaan Waisak adalah Indonesia Walk for Peace, yang merupakan rangkaian dari #WaisakdiBorobudur. Para bhikkhu dari berbagai negara berjalan kaki menuju Borobudur sebagai bentuk penghormatan dan praktik Dharma. Bhante Phra Phanarin Sumetho menyatakan bahwa para bhante dari Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia melakukan perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Bali menuju Borobudur untuk memberikan penghormatan dan menjalankan praktik Dharma dalam rangka Hari Raya Waisak Internasional.
Menurut Bhante Phra, tujuan utama perjalanan ini adalah menghadirkan kebahagiaan, ketenangan, dan perdamaian melalui setiap langkah. Ia juga mengaku terkesan dengan sambutan hangat masyarakat Indonesia selama perjalanan. "Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sementara orang Buddha hanya sebagian kecil dari populasi. Namun kami merasakan kebaikan yang luar biasa dari umat Islam, Hindu, maupun Kristen," tutur Bhante Phra. "Hal itu membuat kami merasa bahwa tujuan dari perjalanan damai ini benar-benar telah tercapai. Tanpa memandang perbedaan agama, mereka bersama-sama memberikan dukungan kepada kami," sambungnya.
Ribuan Lampion Menerangi Langit Borobudur
Saat malam Waisak tiba, suasana Borobudur berubah menjadi lautan cahaya. Ribuan lampion perlahan terbang ke langit malam, membawa doa, harapan, dan pesan perdamaian dari berbagai penjuru dunia. Tradisi pelepasan lampion telah menjadi salah satu momen yang paling dinantikan dalam perayaan Waisak. Cahaya yang mengudara melambangkan kebijaksanaan, harapan, dan perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.
Lebih dari sekadar tradisi keagamaan, momen ini juga menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Mereka berkumpul dalam suasana penuh kedamaian untuk menyaksikan salah satu peristiwa paling ikonik di Borobudur. Seorang pengunjung bernama Wendy mengungkapkan, "Pas banget di Indonesia ada event-nya. Aku pengen banget lihat lampion diterbangkan. Dan ternyata suasananya lebih indah daripada yang aku bayangkan. Pokoknya 100/100 best recommended."
Kesan serupa juga dirasakan wisatawan mancanegara, Joline. Menurutnya, cahaya lampion sangat indah. "Kami pernah mengunjungi Borobudur pada siang hari, tetapi menyaksikan perayaan Waisak secara langsung memberikan pengalaman yang sangat berbeda. It's amazing to see all the people here and how everyone's enjoying this time. I'm really grateful that we got to experience this," ujar Joline.
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman tersebut melampaui ekspektasi. Rafiq mengaku pengalaman perdana #WaisakdiBorobudur sangat berkesan. "Karena ini pertama kali, jadi benar-benar di luar ekspektasi. Saya tidak menyangka akan seramai ini. Kami harus berjalan cukup jauh, tetapi semuanya terbayar ketika melihat suasananya secara langsung," ujarnya.
Pengunjung lainnya, Nabila, menilai Waisak di Borobudur menjadi pengingat akan pentingnya toleransi dan kebersamaan. "Kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang Islam, Buddha, dan Hindu. Tapi di sini kita bisa berkumpul bersama, saling menghargai, dan ikut merasakan kebahagiaan dalam perayaan Waisak," kata Nabila. Malam itu, masyarakat dari berbagai latar belakang menikmati ribuan cahaya yang terbang membawa satu harapan yang sama: perdamaian untuk semua.
Menjaga Keseimbangan Spiritualitas, Pariwisata, dan Kehidupan Lokal
CEO InJourney Maya Watono mengatakan perayaan Waisak menjadi momentum untuk memperkenalkan transformasi Borobudur kepada dunia sebagai destinasi yang tidak hanya berfokus pada pariwisata, tetapi juga budaya, spiritualitas, dan ziarah. "Hari ini kita menyambut pesan yang datang dari seluruh dunia. Mereka datang untuk melihat keindahan Borobudur sekaligus menyaksikan transformasi yang kami lakukan untuk menjadikan Borobudur sebagai destinasi berbasis budaya, spiritual, dan pilgrimage yang inklusif bagi semua kalangan," ujar Maya.
Menurut Maya, transformasi tersebut merupakan bagian dari visi besar untuk menjadikan Borobudur sebagai warisan dunia yang dicintai masyarakat global tanpa meninggalkan nilai-nilai yang dimilikinya. "Kami ingin pelancong internasional, pelancong domestik, dan terutama pelancong internasional, datang dan menikmati Borobudur. Pada akhirnya, tujuan turisme adalah membawa dampak ekonomi ke negara. Dan itu adalah branding negara untuk Indonesia, tetapi juga dampak ekonomi bagi area Magelang, Jawa Tengah, dan Indonesia secara keseluruhan," sambungnya.
Maya berharap momentum Waisak dapat menjadi ajang untuk menunjukkan keberagaman, persatuan, dan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. "Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan Indonesia dalam versi terbaiknya. Jika transformasi ini dijalankan secara konsisten dengan visi yang jelas, kami optimistis akan memberikan manfaat bagi Borobudur dan Indonesia secara keseluruhan," kata Maya.
Transformasi Borobudur tidak hanya berfokus pada peningkatan pengalaman wisata, tetapi juga menjaga keseimbangan antara nilai spiritual, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari penataan kawasan, peningkatan fasilitas, hingga pengembangan Kampung Seni Borobudur. Semua dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai sejarah dan spiritual yang melekat pada kawasan tersebut.
Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, mengatakan Borobudur sedang dikembangkan sebagai destinasi spiritual yang inklusif bagi siapa saja. "Kita ingin menjadikan Borobudur sebagai destinasi spiritual. Tidak hanya menjadi tempat beribadah bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi ruang yang inklusif bagi siapa pun yang datang untuk mencari ketenangan, pengalaman budaya, maupun pengalaman spiritual," ujar Febrina.
Menurut Febrina, transformasi yang dilakukan tidak hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga transformasi spiritual yang menjadikan Borobudur sebagai sanctuary atau ruang yang memberikan ketenangan bagi semua orang. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan dirancang agar berbagai aktivitas dapat berlangsung berdampingan tanpa saling mengganggu. Umat yang ingin beribadah tetap memiliki ruang yang khusyuk, sementara wisatawan dapat menikmati pengalaman berkunjung dengan nyaman. "Jadi, no matter apapun alasan mereka untuk datang ke Borobudur, every bit of Borobudur itu harus ada buat siapapun. Itu yang sedang kita kembangkan, tapi tidak boleh saling mengganggu ya. Kan masalahnya di situ, jadi mereka yang mau beribadah juga punya ruang. Jadi sekarang, kalau datang ke Borobudur, banyak orang yang juga melakukan pradaksina," kata Febrina.
Selain menjaga nilai spiritual dan budaya, pengembangan Borobudur juga diarahkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk kurasi produk lokal dan pendampingan pelaku usaha, masyarakat diharapkan dapat tumbuh bersama perkembangan destinasi. "Cita-cita kami adalah membawa Borobudur ke dunia. Tidak hanya dikenal dan dikunjungi wisatawan mancanegara, tetapi benar-benar menjadi salah satu destinasi unggulan dunia," ujar Febrina.
Selama bertahun-tahun, Borobudur dikenal sebagai warisan budaya dunia. Kini, melalui berbagai transformasi yang dilakukan, Borobudur terus melangkah menjadi destinasi spiritual kelas dunia yang tetap berakar kuat pada budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Di puncak Borobudur, ribuan doa kembali dipanjatkan. Dan dari tempat yang sama, harapan akan perdamaian terus diterbangkan ke langit, menyatukan manusia dari berbagai penjuru dunia dalam satu cahaya yang sama.
Bangkitkan Perekonomian Lokal
Saat ribuan orang datang ke Borobudur untuk merayakan Waisak, bukan hanya doa yang hidup, tetapi juga harapan masyarakat di sekitarnya. Dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung Waisak di Borobudur terus meningkat, menjadi bukti Borobudur terus tumbuh sebagai destinasi spiritual dan budaya dunia. Data kunjungan menunjukkan tren yang terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Pada 2022, jumlah pengunjung Waisak di Borobudur mencapai sekitar 15.000 orang. Angka tersebut melonjak menjadi 45.991 pengunjung pada 2023, meningkat lagi menjadi 75.000 pengunjung pada 2024, dan menembus 100.000 pengunjung pada 2025.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap perayaan Waisak di Borobudur, tetapi juga menghadirkan dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Pemilik Homestay Efata, Ika, mengatakan momentum Waisak memberikan manfaat besar bagi pelaku usaha penginapan di kawasan Borobudur. Ia pun menyebut homestay miliknya ramai saat perayaan Waisak. "Tentu dampaknya positif dari sisi ekonomi. Kalau hari biasa, tentu kami perjuangannya lebih berat. Kalau ada event seperti ini, lebih mudah. Demand-nya banyak sekali," ujar Ika. Menurutnya, manfaat yang dirasakan tidak hanya dari sisi bisnis, tetapi juga dari interaksi dengan para tamu yang datang dari berbagai daerah dan negara. Sebab, penghuni Homestay Efata kerap memberikan nilai dan masukan baru bagi Ika. "Dan itu bagi kami seperti recharge," katanya.
Hal serupa disampaikan pemilik Shinta Homestay, Shinta. Menurutnya, perayaan Waisak di Borobudur mampu menarik perhatian masyarakat lintas agama. Apalagi, pengunjung #WaisakdiBorobudur banyak yang ingin melihat pelepasan lampion. "Merayakan Waisak dari berbagai agama lain. Tidak cuma yang mau acara Waisak saja. Jadi semuanya itu ikut antusias, mau melihat lampion," ujar Shinta.
Dampak positif juga dirasakan para pelaku usaha kuliner. Penjual sate klatak di kawasan Borobudur, Asti, mengaku penjualannya meningkat selama rangkaian perayaan Waisak berlangsung. "Alhamdulillah dengan adanya Waisak dengan lampion, penjualannya bisa meningkat," kata Asti. Sementara itu, pengrajin dari Anggrek Craft, Slamet Isromi, berharap semakin banyak pengunjung yang datang ke Borobudur pada tahun-tahun mendatang. Tentunya, perayaan Waisak membawa berkah bagi para pengrajin lokal. "Dari adanya lampion, kita pedagang itu berharap pengunjung semakin ramai. Dan juga indahnya, dagangan kita ikut laku," ujar Slamet.
Cerita para pelaku usaha tersebut menunjukkan bahwa Waisak di Borobudur bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama destinasi ini. Kehadiran para peziarah dan wisatawan membawa manfaat yang dirasakan hingga ke homestay, warung makan, toko kerajinan, dan berbagai usaha lokal lainnya.



