Tugu Penurunan Tanah Jakarta: Alarm Sunyi di Tengah Ancaman Tenggelamnya Ibu Kota
Di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata Kota Tua, sebuah tugu ramping berdiri tegak di sisi Jembatan Kali Besar, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Sekilas, ia tampak seperti instalasi seni modern yang menyatu dengan bangunan kolonial di sekitarnya. Namun, siapa pun yang mendekat dan membaca penanda di tubuh tugu itu akan segera sadar, monumen ini bukan sekadar hiasan kota, melainkan alarm sunyi atas krisis ekologis yang tengah dihadapi oleh Kota Metropolitan Jakarta, ancaman serius penurunan muka tanah yang terus berlangsung dari tahun ke tahun.
Visualisasi Krisis yang Terabaikan
Berjarak 500 meter dari Stasiun Jakarta Kota, Tugu Peringatan Penurunan Tanah Jakarta setinggi 4,5 meter itu menyajikan gambaran visual yang mencolok. Penanda “Permukaan Tanah di Jakarta Tahun 1974” terletak jauh di atas kepala pengunjung, sementara lantai kayu tempat mereka berdiri hari ini berada beberapa meter di bawahnya. Perbedaan ketinggian itu menjadi ilustrasi nyata betapa dalam tanah Jakarta telah ambles selama puluhan tahun.
Namun, sangat disayangkan, tugu peringatan semacam ini justru kerap luput dari perhatian pengunjung yang datang ke kawasan Kota Tua Jakarta. Di tengah wisata sejarah, spot swafoto, dan bangunan kolonial yang megah, Tugu Penurunan Tanah Jakarta sering kali hanya dipandang sebagai elemen visual semata, bukan sebagai alarm ekologis yang mendesak. Banyak pengunjung melintas tanpa benar-benar membaca informasi yang tertera di badan tugu. Sebagian hanya berhenti sejenak untuk berfoto, lalu melangkah pergi, tanpa menyadari bahwa perbedaan ketinggian penanda pada tugu tersebut merekam kenyataan pahit tanah Jakarta yang telah ambles hingga 4,5 meter dalam rentang puluhan tahun.
Padahal, pesan yang disampaikan tugu itu jauh lebih penting daripada sekadar latar estetik kawasan wisata. Minimnya perhatian publik terhadap tugu ini juga mencerminkan persoalan yang lebih dalam, rendahnya kesadaran kolektif terhadap krisis lingkungan yang berlangsung perlahan namun pasti. Penurunan muka tanah tidak datang dengan ledakan atau gempa, melainkan merayap diam-diam, menunggu hingga dampaknya terasa dalam bentuk banjir, rob, dan rusaknya infrastruktur kota. Ironisnya, ketika bencana datang, peringatan yang telah berdiri tegak di tengah kota ini sering kali baru diingat. Tugu Penurunan Tanah Jakarta seolah menjadi saksi bisu, tetapi tak selalu didengar.
Faktor Penyebab dan Dampak yang Mengkhawatirkan
Diketahui Tugu Penurunan Tanah Jakarta dibangun pada tahun 2023 melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Japan International Cooperation Agency (JICA). Selain papan informasi berbahasa Indonesia dan Inggris, tugu ini juga dilengkapi tulisan huruf braille sebagai upaya inklusivitas bagi penyandang disabilitas netra. Monumen tersebut menyimpan pesan yang tak mudah diabaikan: sejak 1974 hingga 2020, permukaan tanah Jakarta di sejumlah titik telah turun hingga 4,5 meter. Sebuah angka yang bukan hanya statistik, tetapi menyangkut masa depan jutaan warga yang hidup dan bergantung pada kota ini.
Di bagian bawah tugu, tertulis pesan yang tegas: tanah yang telah turun tidak dapat naik kembali. Yang bisa dilakukan hanyalah memperlambat laju penurunannya. Bagi Santi (43), perempuan perantau yang menggantungkan hidup di Jakarta, pesan itu terasa sangat personal. Ia mengaku kerap merasakan banjir akibat dampak langsung dari kondisi lingkungan Jakarta tersebut. "Kalau mengalami banjir sering, baru kemarin kena banjir di daerah Cengkareng, berharap kalau setiap hujan, Jakarta enggak banjir terus, karena kalau banjir akses kemana-mana itu sulit," ujarnya.
Kekhawatiran warga sejalan dengan temuan ilmiah. Penurunan muka tanah (land subsidence) menjadi salah satu faktor utama yang memperparah banjir di Jakarta. Hasil riset menunjukkan sejumlah wilayah di ibu kota mengalami penurunan permukaan tanah lebih dari 10 sentimeter per tahun. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Heru Santosa, menjelaskan temuan tersebut berdasarkan pengolahan citra satelit, dimana penurunan muka tanah dipicu oleh dua faktor utama, yakni kondisi alami lapisan tanah aluvial Jakarta yang mudah terkompaksi serta aktivitas manusia, terutama pengambilan air tanah secara berlebihan.
Ditambah kebutuhan air bersih yang terus meningkat mendorong masyarakat dan pelaku usaha menyedot air tanah dalam jumlah besar, terutama karena layanan jaringan air perpipaan belum menjangkau seluruh wilayah Jakarta secara merata. Penyedotan tersebut membuat rongga dalam lapisan tanah kehilangan kandungan air, memicu pemampatan, dan menyebabkan tanah turun secara bertahap, sebuah proses yang tak bisa dibalikkan.
Perspektif Pengamat dan Kekhawatiran Generasi Muda
Keberadaan Tugu Penurunan Tanah Jakarta tidak hanya dimaknai sebagai elemen edukasi visual, tetapi juga sebagai penanda serius bagi arah pembangunan kota ke depan. Pengamat Tata Kota Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, menilai monumen tersebut menyimpan pesan penting yang kerap diabaikan dalam perencanaan perkotaan. “Tugu Penurunan Tanah di sekitar kawasan Kota Tua Jakarta dapat dimaknai sebagai sebuah tanda sekaligus penanda tentang penurunan tanah. Keberadaannya sejak tahun 1974 sampai dengan 2020 itu 40 tahun, mencatat penurunan 4,5 meter atau dapat dinyatakan setiap tahun terjadi penurunan 10 sentimeter," jelasnya.
"Kenyataan ini menjadi peringatan dini dan penting terhadap dampak yang terjadi kelak," sambungnya secara tegas. Prof Putu menilai, data yang ditampilkan secara kasat mata melalui tugu tersebut seharusnya menjadi dasar evaluasi kebijakan pembangunan, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi tinggi. Tanpa perubahan pendekatan dalam pengelolaan air tanah dan tata ruang, risiko banjir serta kerusakan infrastruktur diperkirakan akan terus meningkat.
Naufal Rizki Ananta (20), Mahasiswa yang ditemui di kawasan Kota Tua, baginya, penurunan muka tanah bukan sekadar isu lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran itu menyentuh langsung persoalan ekonomi dan keberlangsungan hidup keluarganya. “Lama-lama sih saya jadi khawatir sebagai warga yang tinggal di Jakarta. Karena, sumber penghasilan dari keluarga Saya juga ada di Jakarta ini sendiri,” tuturnya.
Di balik kegelisahan yang ia rasakan, Naufal mencoba menelusuri akar persoalan. Ia mengaku mulai memahami bahwa kebutuhan dasar warga akan air bersih turut berkontribusi pada krisis lingkungan yang dihadapi Jakarta hari ini. "Saya sempat baca, bahwasannya, tanah Jakarta semakin lama semakin turun. sebab pengambilan air tanah yang dilakukan oleh warga Jakarta itu sendiri. Karena, memang warga Jakarta membutuhkan air, dimana mereka masih menggunakan pompa dari air tanah tersebut,” ujar Naufal.
Naufal menilai, jika penurunan tanah terus dibiarkan tanpa penanganan serius, dampaknya tidak hanya berupa banjir, tetapi juga kehancuran sektor-sektor vital yang menopang kota metropolitan. "Apa yang sudah terbangun di Jakarta ini bisa hancur karena dampak penurunan tanah ini,” lanjut Naufal. Kekhawatiran itu semakin besar ketika ia mengaitkan fenomena ilmiah ini dengan ancaman banjir besar di masa depan. "Dikhawatirkan nya semakin turun nya tanah Jakarta ini, akan terjadi seperti yang dikatakan oleh ramalan Jayabaya, Di mana pada akhirnya Pulau Jawa akan terendam air,” ucapnya.