Sariyah, Penjual Takjil dari Pemalang yang Setia Berjualan di Benhil Setiap Ramadan
Di tengah ramainya penjual takjil di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, sosok Bu Sariyah menonjol dengan ketekunannya. Ia datang jauh-jauh dari Pemalang, Jawa Tengah, khusus untuk menjajakan kue basah dan berbagai gorengan bagi para pemburu takjil selama bulan Ramadan. Padahal, sehari-hari Sariyah adalah pedagang sembako dan sayur mayur di kampung halamannya.
"Saya tidak berdagang kue basah dan gorengan di kampung. Kami di Pemalang hanya berjualan sembako dan sayur. Berjualan kue di Jakarta ini hanya saat puasa Ramadan," ungkap Sariyah di lapak dagangannya di Benhil, Jakarta Pusat. Ia bercerita bahwa tekadnya datang ke Jakarta setiap tahun didasari kegemarannya membuat kue, yang sudah dimulai sejak masih gadis.
Proses Panjang dari Bekasi hingga Benhil
Selama Ramadan, Sariyah menempati sebuah rumah di Bekasi bersama anaknya. Di sanalah proses pembuatan kue dan gorengan dilakukan. Bersama putrinya dan satu karyawan, mereka mulai mengolah dagangan sejak habis magrib, bekerja hingga menjelang pagi untuk memastikan semua matang dan siap dijual.
"Kami mulai dari malam, setelah buka puasa. Tidur sekitar jam 11-12 malam, lalu lanjut lagi jam 3 saat sahur. Kami tidak bikin sendiri, tapi ramai-ramai. Anak saya sudah antar dagangan ke Benhil dari malam, ditaruh di lapak, lalu digelar untuk didagangkan," jelasnya. Meski prosesnya panjang, Sariyah mengaku senang karena dagangannya menghasilkan uang untuk dibawa pulang ke Pemalang.
Penurunan Penjualan yang Misterius
Sariyah telah berdagang di Benhil setiap Ramadan sejak 2011, mencoba berbagai lokasi dari dekat Pasar Benhil hingga Bazar Takjil Ramadan Benhil saat ini. Namun, tahun ini, ia mengalami kemerosotan penjualan yang signifikan. Ia mengaku tidak mengerti faktor penyebabnya, tetapi omzetnya turun hingga 40 persen.
"Tahun ini penjualan merosot. Tidak tahu apa penyebabnya, mungkin pengunjungnya sedikit. Penurunan omzet sekitar 40 persen. Kami tadinya punya tiga karyawan, sekarang cuma satu yang memasarkan," imbuhnya. Meski demikian, Sariyah tetap berharap usahanya dapat menutup biaya dan ongkos pulang ke kampung halaman.
