Gaji Guru Honorer Rp500.000 Per Bulan, Jauh di Bawah UMR
Gaji Guru Honorer Rp500.000 Per Bulan, Jauh di Bawah UMR

Gaji Guru Honorer Tak Berstandar, Banyak yang Terima Rp500.000 Per Bulan

Di saat para buruh pabrik memiliki gaji yang dilindungi oleh hukum melalui ketetapan Upah Minimum Regional (UMR) setiap tahunnya, jutaan guru honorer di Indonesia justru masih terjebak dalam ketidakpastian finansial. Hingga kini, tidak ada standar upah minimal gaji yang bisa diterima guru honorer. Hal ini membuat pendapatan mereka di daerah kerap berada di bawah batas kemanusiaan.

Adelia Putri, seorang guru SD swasta di Yogyakarta, mengatakan bahwa gajinya sebagai guru honorer hanya Rp500.000 per bulan. Suaminya yang bekerja di pabrik memiliki gaji Rp2,5 juta per bulan. Belum ada bonus, karena baru saja diterima kerja.

"Jadi, kalau ditambah gaji saya, totalnya Rp3 juta. Itu memang tidak cukup untuk biaya hidup, sekalipun kami tinggal di desa. Ya tidak cukup, dicukup-cukupkan. Saya terkadang repot kalau kerja. Ingin menitipkan anak ke daycare tetapi uangnya tidak cukup. Sehari-hari titip ke mertua juga kasihan," kata Adelia saat dihubungi Kompas.com, Kamis (4/6/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ketimpangan dengan Sektor Lain

Kondisi ini menunjukkan ketimpangan yang mencolok antara sektor pendidikan dan sektor lainnya. Sementara buruh pabrik memiliki jaminan upah minimum yang disesuaikan setiap tahun, guru honorer tidak memiliki perlindungan serupa. Akibatnya, banyak guru honorer yang harus bekerja sampingan atau bergantung pada pasangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Adelia menambahkan bahwa ia sering merasa kesulitan membagi waktu antara mengajar dan mengurus anak. Ia ingin menitipkan anak ke daycare, tetapi biayanya tidak terjangkau. Ia pun terpaksa menitipkan anak ke mertua, meski merasa kasihan.

Dampak pada Kualitas Pendidikan

Rendahnya gaji guru honorer tidak hanya berdampak pada kesejahteraan mereka, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas pendidikan. Guru yang kesulitan ekonomi cenderung kurang fokus dalam mengajar dan rentan mengalami stres. Hal ini pada akhirnya merugikan siswa yang menjadi penerima ilmu.

Pemerintah diharapkan segera merumuskan kebijakan upah minimum untuk guru honorer, sebagaimana yang telah diterapkan untuk buruh di sektor formal. Tanpa adanya standar upah yang jelas, ketidakpastian finansial akan terus membayangi jutaan tenaga pendidik honorer di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga