Jakarta - Aksi unjuk rasa dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di depan Gedung DPR/MPR, Jakarta, telah usai pada Jumat (1/5/2026) sore. Berdasarkan pantauan, massa aksi mulai meninggalkan lokasi sejak pukul 17.40 WIB. Sejumlah mobil komando (mokom) juga telah dipersiapkan untuk mundur dari area tersebut.
Jalan Gatot Subroto Kembali Dibuka Normal
Memasuki pukul 18.00 WIB, kawasan di depan Gedung DPR/MPR mulai tampak lengang. Hanya tersisa beberapa orang dari warga sipil yang masih berada di lokasi. Tak lama kemudian, petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau yang dikenal sebagai pasukan oranye segera turun tangan untuk membersihkan area aksi. Pada pukul 19.00 WIB, area depan Gedung DPR/MPR telah kembali bersih. Para pedagang makanan dan minuman pun mulai meninggalkan lokasi, hanya menyisakan beberapa lapak saja. Saat ini, Jalan Gatot Subroto di depan Gedung DPR/MPR sudah kembali dibuka normal untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Pintu keluar tol menuju arah Palmerah juga telah dibuka kembali.
Tuntutan Buruh: Upah Layak dan Hentikan PHK Massal
Sebelumnya, massa buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR dalam peringatan May Day 2026. Aksi ini dihadiri oleh Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) yang tergabung dalam aliansi GEBRAK (Gerakan Buruh Bersama Rakyat). Unjuk rasa dimulai sekitar pukul 13.30 WIB. Hingga pukul 15.00 WIB, massa buruh masih memadati kawasan Gedung DPR/MPR, meskipun sebagian peserta sudah mulai meninggalkan area. Sejumlah buruh bergantian menyampaikan orasi di atas mobil komando. Anggota Konfederasi KASBI tampak kompak mengenakan seragam berwarna merah. Selain buruh, aksi ini juga dihadiri oleh berbagai organisasi mahasiswa dan organisasi independen lainnya. Masing-masing kelompok membawa bendera sebagai simbol organisasi. Unjuk rasa ini turut dimeriahkan oleh penampilan musisi seperti Black Horses, The Brandals, Efek Rumah Kaca, dan lainnya.
Singgung Upah Rendah dan K3 Buruh
Ketua Umum Konfederasi KASBI, Sunarno, menegaskan bahwa unjuk rasa ini bersifat independen dan berbeda dari perayaan May Day Fiesta di Lapangan Silang Monas. “KASBI dan Aliansi GEBRAK tidak bergabung ke acara May Day Fiesta di Monas bareng Presiden karena kondisi perburuhan secara riil memang masih sangat memprihatinkan,” ujar Sunarno pada Jumat (1/5/2026).
Sunarno menyoroti berbagai permasalahan yang masih kerap dirasakan oleh kaum buruh. Mulai dari upah rendah di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), jam kerja panjang, tidak adanya jaminan sosial, hingga pelanggaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Ia juga menilai bahwa skema labour flexibility sangat merugikan para buruh. Menurutnya, kondisi ini sangat memprihatinkan. “Skema labour market flexibility, yaitu sistem kerja yang memberikan kelonggaran atas pemenuhan hak-hak normatif kaum buruh, atau sistem kerja yang mengarah pada informalisasi tenaga kerja. Artinya, kaum buruh semakin sulit mendapatkan status sebagai pekerja tetap,” jelasnya.
Dalam perayaan May Day 2026, Sunarno menyatakan bahwa Konfederasi KASBI bersama Aliansi GEBRAK memiliki sepuluh tuntutan. Baginya, May Day bukan sekadar libur nasional, melainkan momentum refleksi atas komitmen kesetaraan, keadilan sosial, dan martabat manusia di tempat kerja.



