BI: Rupiah Undervalued, Berpeluang Menguat Didukung Ekonomi Solid
BI: Rupiah Undervalued, Berpeluang Menguat

Bank Indonesia (BI) menilai bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued. Meskipun demikian, masih terdapat peluang bagi rupiah untuk kembali menguat seiring kondisi ekonomi domestik yang dinilai tetap solid.

Data Nilai Tukar Rupiah Terkini

Berdasarkan data BI, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.140 per dolar AS pada 21 April 2026. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,87 persen (point to point) dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2026. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa secara fundamental nilai tukar rupiah seharusnya berada pada level yang lebih kuat.

Faktor Pendorong Pelemahan

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor global, termasuk penguatan dolar AS dan ketidakpastian pasar keuangan internasional. Namun, BI menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh, didukung oleh inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Prospek Penguatan Rupiah

BI optimistis rupiah akan kembali menguat seiring dengan membaiknya sentimen pasar dan kebijakan moneter yang akomodatif. Perry Warjiyo menyatakan bahwa BI akan terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamentalnya.

Selain itu, surplus neraca perdagangan dan aliran masuk modal asing diperkirakan akan mendukung penguatan rupiah dalam jangka menengah. Pemerintah juga berkomitmen untuk memperkuat sektor riil guna meningkatkan daya saing ekspor dan mengurangi tekanan pada nilai tukar.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga