Manajemen RSUD Dr Soetomo Surabaya membantah tuduhan bahwa sistem hidran di Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) tidak berfungsi optimal saat kebakaran terjadi pada Jumat (15/5) pagi. Wakil Direktur Pelayanan Medik & Keperawatan, Prof Dr Ahmad Suryawan, menegaskan bahwa seluruh hidran di gedung tersebut masih berfungsi normal. Namun, ia mengakui bahwa tekanan air mungkin kurang optimal untuk menjangkau titik api di lantai 5.
Fungsi Hidran Tetap Berjalan
Koordinator Red Code RSUD Dr Soetomo, Dwi K, menjelaskan bahwa gedung PPJT memiliki dua hidran, yaitu outdoor dengan selang 2,5 inci dan indoor 1,5 inci. Saat kebakaran, petugas menggunakan hidran indoor karena api berada di dalam gedung. Sementara itu, hidran outdoor didukung oleh tim pemadam kebakaran. Dwi menegaskan bahwa kedua hidran berfungsi dengan baik, tetapi tekanannya kurang kuat untuk menjangkau api di sisi belakang lantai 5. “Terkait fungsi PPJT box indoor kami berfungsi, namun harapan dari tim Damkar itu tekanannya yang bisa tinggi. Namun kemampuan dari hidran kami dirasa belum cukup,” ujarnya.
Penanganan Kebakaran dan Evakuasi
Kepala Instalasi Hukum, Humas dan Pemasaran RSUD Dr Soetomo, Martha Kurnia K, menyatakan bahwa penanganan awal kebakaran dilakukan menggunakan sistem proteksi internal gedung sambil berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya. “Proses penanganan awal kebakaran sendiri, petugas rumah sakit segera melakukan pemadaman menggunakan sistem proteksi internal gedung sambil menghubungi petugas pemadam kebakaran. Respons cepat seluruh pihak berhasil melokalisir api sehingga tidak meluas ke area maupun lantai lain di lingkungan rumah sakit,” kata Martha dalam keterangan tertulisnya.
Kematian Pasien Akibat Penyakit
Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, menegaskan bahwa kematian satu pasien bernama Sutaji (46) asal Blora, Jawa Tengah, murni disebabkan oleh faktor penyakit yang diderita, bukan karena kebakaran atau paparan asap. Pasien tersebut dalam kondisi kritis sebelum kebakaran dan sedang mendapatkan bantuan alat medis karena kegagalan fungsi beberapa organ tubuh utama. “Meninggal karena penyakit. Karena memang itu tadi sesuai dengan penjelasan kawan-kawan bahwa kondisi sudah tersupport oleh tiga organ, yaitu paru-paru, jantung, dan ginjal. Dan cuci darah sedang on the way, dan kami tetap melakukan evakuasi, dan tentu bukan karena asap karena semuanya tersupport oleh mesin ya,” kata Cita.
Kesaksian Keluarga Korban
Yuli, istri Sutaji, menceritakan bahwa suaminya menjadi pasien terakhir yang dievakuasi dari ruang ICCU di lantai 6. Saat kebakaran, listrik di gedung dipadamkan sehingga ia harus turun melalui tangga darurat. Setelah bertemu dengan suaminya, kondisi Sutaji semakin lemah dan akhirnya meninggal dunia setelah dipindahkan ke Ruang Resusitasi IGD. “Pas posisi turun jantung bapak sudah lemah, langsung enggak ada,” kata Yuli dengan tangis.
Penyebab Kebakaran
Kebakaran diduga berasal dari korsleting listrik pada lemari es di ruang farmasi lantai 5 Gedung PPJT. Sebanyak 44 pasien berhasil dievakuasi, namun satu pasien meninggal dunia. Pihak rumah sakit memastikan bahwa kematian tersebut tidak terkait dengan kebakaran.



