Ibas: Pengalaman Korsel Bangun Infrastruktur Bisa Jadi Inspirasi RI
Wakil Ketua MPR RI yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), melakukan pertemuan diplomasi kebangsaan dengan jajaran Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea Selatan (Ministry of Land, Infrastructure and Transport/MOLIT). Pertemuan ini turut dihadiri delegasi anggota MPR/DPR RI serta perwakilan Duta Besar RI untuk Korea Selatan, dan diterima langsung oleh Wakil Menteri Pertama MOLIT Kim Yi-tak bersama sejumlah pejabat strategis.
Dalam pertemuan tersebut, Ibas menyampaikan apresiasi atas sambutan pemerintah Korea Selatan. Ia menilai hubungan kedua negara yang telah terjalin hampir lima dekade menjadi fondasi kuat untuk memperluas kerja sama, khususnya di sektor infrastruktur dan transportasi. "Indonesia hadir bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai sahabat dan mitra strategis yang ingin menyelaraskan masa depan bersama. Kami percaya pengalaman Korea Selatan dalam membangun infrastruktur visioner dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan Indonesia," kata Ibas, dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).
Ibas juga menyoroti keberhasilan Seoul sebagai contoh transformasi kota berbasis infrastruktur yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, Indonesia pun berkomitmen untuk menghadirkan transformasi serupa melalui pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan posisi strategis di jalur perdagangan dunia, Indonesia menawarkan peluang besar dalam pengembangan infrastruktur global. Investasi di Indonesia dinilai tidak hanya berdampak nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas rantai pasok dan perdagangan internasional, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
Selain itu, Indonesia yang memiliki populasi lebih dari 278 juta jiwa tengah memasuki bonus demografi. Kondisi ini mendorong kebutuhan besar akan pembangunan infrastruktur, mulai dari perumahan, energi, hingga fasilitas publik. Oleh karena itu, sinergi dengan Korea Selatan, khususnya melalui MOLIT, menjadi sangat penting dalam menjawab tantangan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah juga terus menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen dengan PDB mendekati USD 1,4 triliun, meski efisiensi logistik masih menjadi tantangan dengan biaya mencapai sekitar 23 persen dari PDB. Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto pun terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Hal ini tercermin dari alokasi anggaran infrastruktur dalam APBN 2025 yang mencapai sekitar Rp400 triliun, serta berbagai prioritas pembangunan periode 2025-2029, seperti konektivitas jalan, ketahanan air dan pangan, hingga pengembangan 'Smart Cities'.
Dalam konteks tersebut, Indonesia membuka peluang bagi Korea Selatan untuk terlibat lebih jauh, tidak hanya sebagai kontraktor, tetapi juga mitra investasi strategis di berbagai sektor. Mulai dari pengembangan kota pintar, infrastruktur hijau, transport-oriented development (TOD), hingga teknologi konstruksi tahan gempa. Pertemuan ini juga menjadi ajang pertukaran pengetahuan, termasuk terkait pengembangan smart city berbasis living lab, intelligent transport systems (ITS), teknologi ramah lingkungan seperti warm mix asphalt, hingga pemanfaatan artificial intelligence dalam pengelolaan transportasi dan infrastruktur.
Menutup sambutan, Ibas menegaskan pentingnya realisasi konkret dari kerja sama yang dijalin kedua negara. "Kami berharap kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada kesepakatan di atas kertas, tetapi terwujud dalam proyek nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara," pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri MOLIT Kim Ei-Tak memperkenalkan berbagai inisiatif Korea Selatan, termasuk sistem dukungan investasi dan program K-City Network untuk pengembangan smart city di luar negeri. Ia berharap bahwa melalui pertemuan ini, Korea Selatan dapat memperkuat kerangka kerja sama di bidang infrastruktur transportasi berkelanjutan, smart city, dan Bantuan Pembangunan Resmi (ODA) untuk lahan, infrastruktur, dan transportasi, serta memperluas pertukaran antara kedua negara.
Kedua pihak juga membahas sejumlah proyek potensial, seperti Light Rail Transit (LRT) Jakarta yang tengah disiapkan untuk melibatkan perusahaan Korea, serta pembangunan Smart City Center di Ibu Kota Nusantara (IKN) melalui skema ODA. Pertemuan ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemitraan Indonesia dan Korea Selatan di sektor infrastruktur dan transportasi ke depan.
Turut mendampingi Ibas dalam kunjungan ini sejumlah Anggota Fraksi Partai Demokrat dari berbagai komisi di DPR RI, yakni Anton Sukartono Suratto (Komisi I), Rinto Subekti (Komisi XIII), Dina Lorenza (Komisi VII), Lucy Kurniasari (Komisi IX), Bramantyo Suwondo (Komisi X), Rizki Aulia Rahman Natakusumah (Komisi I), Wastam (Komisi V), Muhammad Lokot Nasution (Komisi V), serta Sartono (Komisi XII). Sementara itu, dari pihak MOLIT Korea Selatan, pertemuan dihadiri oleh First Vice Minister Kim Ei-Tak, serta jajaran pejabat yang membidangi kebijakan dan dukungan konstruksi luar negeri, termasuk Lee Hye-sun, Lee Hyun-young, Han Chang-min, dan Won Byung-chul, serta didukung oleh penasihat dan penerjemah Yun Da-hee.
Pertemuan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat diplomasi kebangsaan Indonesia, sekaligus membuka peluang baru bagi kemitraan strategis yang lebih luas dan berkelanjutan antara Indonesia dan Korea Selatan di sektor infrastruktur dan transportasi.



