Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka merasa senang dengan perkembangan pembangunan MRT Jakarta fase 2A rute Utara-Selatan. Proyek tersebut seluruhnya dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia, menjadi kebanggaan tersendiri.
Hal ini disampaikan Pramono setelah mendampingi Gibran meninjau proyek MRT fase 2A di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, pada Selasa, 12 Mei 2026. Pramono menyatakan bahwa Wapres menyampaikan rasa puas atas progres yang telah dicapai.
Apresiasi terhadap Progres dan Keterlibatan Pekerja Lokal
Menurut Pramono, Gibran telah beberapa kali meninjau proyek tersebut, sehingga dapat melihat langsung perkembangan dari waktu ke waktu. "Secara keseluruhan beliau menyampaikan rasa gembira dan puas karena beliau juga sudah pernah melihat sebelumnya. Progresnya cukup bagus dan apalagi terowongannya cukup rapi," ujar Pramono.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus dari Wapres adalah keterlibatan tenaga kerja lokal. Pramono menegaskan bahwa seluruh pekerja yang terlibat merupakan putra-putri terbaik Indonesia. "Semua sekali lagi dikerjakan oleh putra-putri Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kita memang mampu untuk itu," katanya.
3.800 Pekerja Indonesia Terlibat
Pramono mengungkapkan bahwa sekitar 3.800 pekerja turut serta dalam pembangunan MRT fase 2A. Seluruh tenaga kerja tersebut adalah warga negara Indonesia yang dipercaya mengerjakan proyek infrastruktur berskala besar. "Yang menggembirakan 3.800 orang yang bekerja di sana semuanya adalah Indonesia. Sehingga dengan demikian ini membuktikan bahwa putra-putri terbaik kita kalau diberikan kesempatan bisa memberikan hasil yang luar biasa," ucapnya.
Meski demikian, Pramono mengingatkan bahwa kualitas pembangunan harus tetap menjadi prioritas utama. Ia berharap progres proyek MRT fase 2A terus berjalan sesuai target hingga nantinya beroperasi. "Yang paling penting adalah kualitasnya harus tetap terjaga," imbuhnya.
Proyek MRT Fase 2A CP202 Harmoni-Mangga Besar dijalankan oleh PT MRT Jakarta dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027. Dengan melibatkan tenaga kerja lokal, proyek ini menjadi bukti kemampuan sumber daya manusia Indonesia dalam mengerjakan infrastruktur kelas dunia.



