Banjir rob melanda pesisir Surabaya pada Rabu (15/7/2026), merendam kawasan Kalianak, Kecamatan Krembangan. Sebuah sekolah dasar, SD Yayasan Karya Putra, menjadi salah satu yang terdampak parah sehingga proses belajar mengajar terganggu.
Genangan Air Capai 40 cm, Siswa Terpaksa Digendong
Ketinggian banjir yang harus dilalui siswa saat berangkat mencapai 30-40 cm, sementara di dalam kelas genangan air setinggi 10-15 cm. Para siswa melepas sepatu agar tidak basah. Guru Yuli (44) mengatakan pihak sekolah tidak meliburkan siswa karena pembelajaran wajib dan bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). "Dua kelas mengalami dampak terparah dengan genangan setinggi mata kaki, namun kami tidak meliburkan siswa," ujar Yuli.
Yuli menambahkan banjir rob sudah rutin terjadi dua hingga tiga kali sebulan sejak sekolah berdiri pada 1998. Keterbatasan biaya membuat penanganan banjir belum maksimal meski sekolah telah berupaya memperbaiki infrastruktur. "Saat rob datang, para siswa terbiasa memakai sendal, serta harus berangkat dan pulang sekolah dengan digendong oleh orang tua mereka," tambahnya.
Normalisasi Sungai Diduga Perparah Banjir
Guru lain, Nanda (60), mengamati ketinggian air rob justru meningkat setelah proyek normalisasi Sungai Kalianak yang berjarak beberapa meter dari belakang sekolah. "Kami khawatir karena merasa genangan air yang masuk ke sekolah semakin dalam setelah proyek normalisasi dikerjakan, sehingga kami sangat berharap ada pihak yang peduli dan membantu mengatasi kondisi ini," papar Nanda.
Warga Kalianak Timur, Hendro, membenarkan banjir rob telah mendera wilayah mereka selama 63 tahun terakhir dengan ketinggian air bisa mencapai lebih dari 50 cm. "Warga kini hanya bisa pasrah memantau informasi pasang surut demi mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, baik itu terhadap aktivitas ekonomi dan pendidikan anak-anak kami," ujarnya.
BMKG: Banjir Rob Berlangsung 12-17 Juli 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya menyebutkan banjir rob telah merendam sejumlah wilayah pesisir Surabaya sejak 12 Juli dan diprediksi berlangsung hingga 17 Juli 2026. Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Maritim Surabaya, Sutarno, mengonfirmasi ketinggian air di Jalan Kalimas dan Kalianak mencapai 15-29 cm. Akses jalan protokol hingga permukiman warga tergenang, memicu kemacetan lalu lintas.
Banjir rob ini dipicu siklus astronomi bulanan ekstrem, yaitu fase bulan baru yang menyebabkan pasang air laut maksimum. BMKG mengimbau masyarakat di sepanjang garis pantai untuk waspada terhadap kenaikan volume air laut yang diprediksi mencapai 120-160 cm di atas permukaan laut (DPL). Puncak kenaikan diperkirakan terjadi setiap hari pukul 09.00-12.00 WIB.
Dampak Luas: Ekonomi, Infrastruktur, dan Kesehatan
Sutarno menjelaskan dampak banjir rob tidak hanya pada pendidikan, tetapi juga mengganggu stabilitas aktivitas ekonomi dan mobilitas harian. Sektor transportasi maritim, logistik, bongkar muat di pelabuhan, pariwisata, hingga pekerjaan nelayan tambak terpengaruh. Genangan setinggi 10-40 cm di daratan dapat menghambat transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir.
Banjir rob juga berpotensi menyebabkan kerusakan fisik dan infrastruktur karena air asin merendam bangunan, kendaraan, dan jalan. "Komponen logam pada kendaraan dan bangunan mengalami korosi akibat kandungan garam pada air laut," ucap Sutarno. Genangan air kotor dapat menimbulkan penyakit kulit, gatal-gatal, batuk, dan diare. Air bersih menjadi langka, dan ekosistem mangrove terancam abrasi.
Wilayah Terdampak Meluas ke Jawa Timur
BMKG memetakan titik krusial di Surabaya yang masuk zona merah kerentanan banjir rob, meliputi pelabuhan, Surabaya Utara dan Benowo, Surabaya Timur (Kenjeran dan Sukolilo), serta Surabaya Barat. Daerah penyangga seperti Gresik, Lamongan, dan Tuban juga harus waspada. Banjir rob diproyeksikan meluas ke pesisir selatan Jawa Timur hingga Madura, termasuk Banyuwangi, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo, Jember, Bangkalan Selatan, Kuanyar, Sampang, Sepanjang Selat Madura, hingga Kreseh.
Untuk mengatasi dampak, BMKG merekomendasikan pembangunan tanggul, penyiapan pompa air, perbaikan drainase, dan pelestarian mangrove. "Upaya penanganan yang pertama pembangunan tanggul, menyiapkan pompa air, melakukan perbaikan drainase dan yang terakhir adalah pelestarian mangrove," pungkas Sutarno.



