Rupiah Melemah ke Rp 17.500, Harga Pangan dan Energi Tertekan
Rupiah Melemah ke Rp 17.500, Harga Pangan Tertekan

Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menekan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga harga energi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik atau perang di Timur Tengah. Nilai tukar rupiah pada 12 Mei 2026 berada di kisaran Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat (AS).

Tekanan Global dan Domestik

Tekanan terhadap rupiah ini dinilai tidak berdiri sendiri, tetapi terjadi akibat gabungan faktor global dan domestik yang muncul secara bersamaan. Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi, S.E., M.Sc., Ph.D., menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk tekanan perfect storm terhadap nilai tukar rupiah.

Dampak pada Harga Pokok

Pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku dan barang konsumsi meningkat, sehingga harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula berpotensi naik. Selain itu, biaya transportasi juga terpengaruh karena harga bahan bakar minyak (BBM) yang diimpor dalam dolar AS menjadi lebih mahal.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Harga Energi Ikut Tertekan

Kenaikan harga energi dunia akibat konflik Timur Tengah semakin memperburuk situasi. Harga minyak mentah dan gas alam yang melonjak akan berdampak langsung pada tarif listrik dan harga BBM di dalam negeri, meskipun pemerintah berupaya memberikan subsidi.

Para ekonom memperingatkan bahwa jika rupiah terus melemah, inflasi dapat meningkat dan daya beli masyarakat menurun. Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah stabilisasi nilai tukar dan menjaga pasokan barang pokok agar harga tidak melonjak drastis.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga