Presiden Prabowo Perintahkan Pembangunan Storage BBM Darurat Imbas Stok Tipis
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mendapatkan arahan baru dari Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang kritis. Stok BBM saat ini dilaporkan hanya tersisa untuk 21 hingga 25 hari ke depan, situasi yang memicu kekhawatiran serius di tengah ketegangan geopolitik global.
Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Pasokan BBM
Bahlil menjelaskan bahwa sisa stok BBM yang tipis ini merupakan imbas langsung dari penutupan Selat Hormuz. Penutupan selat strategis tersebut terjadi akibat perang antara aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, yang mengganggu jalur distribusi energi dunia. Selat Hormuz dikenal sebagai jalur vital untuk pengiriman minyak mentah dan produk turunannya, sehingga penutupannya berdampak signifikan pada pasokan BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia.
"Bapak Presiden Prabowo, memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage, supaya ketahanan energi kita ada," kata Bahlil dalam pernyataannya yang dikutip dari Kompas.com, Rabu (4 Maret 2026). Arahan ini menekankan urgensi untuk memperkuat infrastruktur energi nasional guna mengantisipasi ketidakpastian pasokan di masa depan.
Upaya Pemerintah dalam Memperkuat Ketahanan Energi
Pemerintah melalui Kementerian ESDM kini bergerak cepat untuk menindaklanjuti perintah Presiden Prabowo. Pembangunan fasilitas penyimpanan atau storage BBM yang lebih luas dan modern menjadi prioritas utama. Langkah ini bertujuan tidak hanya untuk mengamankan stok dalam jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan energi jangka panjang yang lebih tangguh.
Beberapa poin kunci dalam rencana ini meliputi:
- Peningkatan kapasitas penampungan BBM di titik-titik strategis di seluruh Indonesia.
- Pengoptimalan sistem logistik dan distribusi untuk menghindari kelangkaan di daerah-daerah terpencil.
- Koordinasi dengan pihak terkait, termasuk perusahaan minyak dan gas, untuk memastikan kelancaran implementasi.
Dengan arahan presiden ini, diharapkan Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan impor dan lebih siap menghadapi gejolak pasar energi global di masa depan.
