Mengapa Magnitudo Gempa Bumi Bisa Berubah? Simak Penjelasan BMKG
Informasi gempa bumi yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) seringkali ditandai dengan huruf M diikuti angka, yang merujuk pada Magnitudo. Menurut unggahan akun Instagram @infobmkg, magnitudo adalah skala yang mengindikasikan besarnya energi yang dilepaskan di pusat gempa bumi. Skala ini dihitung berdasarkan data sinyal seismik yang direkam oleh seismograf, menggunakan pendekatan logaritmik untuk mengukur energi secara akurat.
Jenis-Jenis Magnitudo dan Karakteristiknya
Magnitudo memiliki berbagai jenis dengan karakteristik dan keterbatasan yang berbeda-beda dalam merepresentasikan besaran energi gempa. Meskipun beragam, semua jenis magnitudo memiliki kesamaan: sama-sama memanfaatkan skala logaritmik untuk menetapkan satu nilai mutlak dari energi yang dilepaskan selama gempa bumi. Dengan demikian, angka magnitudo bukanlah angka acak, melainkan hasil perhitungan ilmiah yang sistematis.
Alasan Perubahan Magnitudo dalam Informasi Gempa
Perubahan skala magnitudo dalam laporan gempa bumi memang dapat terjadi, dan hal ini bukan suatu kesalahan. Parameter gempa, termasuk magnitudo yang pertama kali dirilis, merupakan informasi dini yang mengutamakan kecepatan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Mengapa magnitudo bisa berubah? Jawabannya terletak pada proses pengumpulan data seismik.
Pada menit-menit awal setelah gempa, hanya sedikit seismograf yang berhasil menangkap sinyal gempa. Secara bertahap, seismograf yang terletak lebih jauh mulai ikut merekam sinyal tersebut. Semakin banyak seismograf yang melaporkan data, semakin akurat parameter yang dihasilkan oleh sistem BMKG. Oleh karena itu, informasi parameter awal berfungsi sebagai peringatan cepat, sementara informasi parameter pemutakhiran mencerminkan hasil analisis yang lebih presisi karena didukung oleh data lengkap dari seismograf di berbagai lokasi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan:
- Magnitudo Awal: Digunakan untuk informasi cepat guna menjaga kesiapsiagaan.
- Magnitudo Update: Menyajikan data yang jauh lebih akurat dan terperinci.
Jenis-Jenis Gempa Bumi Berdasarkan Penyebab dan Kedalaman
Gempa bumi umumnya disebabkan oleh pergerakan kerak bumi, pergeseran lempeng tektonik, atau aktivitas vulkanik. Berikut adalah klasifikasi gempa bumi berdasarkan penyebab dan kedalamannya:
Berdasarkan Penyebabnya
- Gempa Vulkanik: Terjadi akibat letusan gunung berapi, seringkali terkait dengan aktivitas magma.
- Gempa Tektonik: Disebabkan oleh pergeseran lapisan kulit bumi karena pelepasan energi di zona penunjaman, biasanya memiliki kekuatan yang signifikan.
- Gempa Runtuhan atau Terban: Dipicu oleh tanah longsor, runtuhnya gua, atau fenomena serupa, dengan dampak terbatas dan jangkauan sempit.
Berdasarkan Kedalamannya
- Gempa Bumi Dalam: Hiposentrum (pusat gempa) berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi, umumnya tidak terlalu berbahaya.
- Gempa Bumi Menengah: Hiposentrum terletak antara 60 km hingga 300 km di bawah permukaan, sering menimbulkan kerusakan ringan dengan getaran yang lebih terasa.
- Gempa Bumi Dangkal: Hiposentrum kurang dari 60 km dari permukaan bumi, biasanya menyebabkan kerusakan besar karena dekat dengan permukaan.
Pemahaman tentang magnitudo dan jenis-jenis gempa ini penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana alam, sekaligus mengapresiasi upaya BMKG dalam menyediakan informasi yang cepat dan akurat.



