Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menyoroti meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Menurutnya, situasi ini menjadi peringatan serius bahwa disrupsi energi global belum berakhir.
Ancaman Stabilitas Pasokan Energi Global
Eddy Soeparno menegaskan bahwa perkembangan terbaru di Selat Hormuz menunjukkan kerentanan stabilitas pasokan energi global. "Kita tidak boleh lengah bahwa krisis telah usai. Disrupsi energi global masih berlangsung dan berpotensi kembali memburuk sewaktu-waktu," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).
Ia mengingatkan Indonesia untuk tidak terlena dengan gencatan senjata atau jeda konflik sementara. "Fakta bahwa konflik dapat kembali memanas dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa situasi geopolitik global sangat dinamis. Realitasnya, risiko konflik tetap tinggi dan berdampak pada ekonomi global serta berpotensi menjadi tekanan bagi APBN kita," jelasnya.
Percepatan Kemandirian Energi Nasional
Eddy mendorong pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional secara menyeluruh. Menurutnya, ketahanan energi tidak boleh berhenti pada ketersediaan pasokan, tetapi juga mencakup pengelolaan risiko disrupsi global melalui percepatan transisi energi. "Indonesia harus mempercepat langkah menuju kemandirian energi. Kita memiliki potensi besar dari sumber daya dalam negeri seperti panas bumi, gas alam, dan bioenergi yang harus dioptimalkan," katanya.
Dalam banyak kesempatan, Eddy menegaskan bahwa ketahanan energi saat ini sama urgensinya dengan ketahanan nasional. "Krisis berkepanjangan di Selat Hormuz menegaskan bahwa upaya mempercepat kemandirian energi dari sumber-sumber dalam negeri tak bisa ditunda lagi," sambungnya.
Reformasi Sektor Energi sebagai Titik Balik
Politikus PAN itu menekankan bahwa ketegangan global yang kembali terjadi harus dijadikan titik balik untuk mempercepat reformasi sektor energi nasional. "Ketahanan energi dan transisi energi harus berjalan beriringan. Kita perlu membangun sistem energi berkelanjutan sekaligus tahan menghadapi gejolak geopolitik global. Krisis global sudah seharusnya menjadi alarm bagi kita untuk berbenah dan mempercepat langkah strategis mewujudkan kemandirian energi," tutupnya.



