FPCI Dorong 100 GW PLTS untuk Transisi Energi Bersih dan Kemandirian Indonesia
Jakarta - Isu transisi energi bersih semakin mengemuka di Indonesia, dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) mengambil peran penting dalam mendorong percepatan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Melalui press briefing bertajuk 'Rekomendasi Kebijakan, Regulasi, dan Implementasi Program 100 GW PLTS untuk Ketahanan dan Kemandirian Energi serta Pertumbuhan Indonesia' di Jakarta, FPCI menggaungkan target ambisius 100 gigawatt PLTS sebagai fondasi menuju 100 persen energi terbarukan pada 2035, sesuai visi Presiden Prabowo Subianto.
Target Realistis untuk Masa Depan Hijau
Kiara Putri Mulia, Climate Program Manager FPCI, menegaskan bahwa rekomendasi 100 GW PLTS disusun oleh 19 organisasi masyarakat sipil dan lembaga riset. "Ini bukan sekadar tentang menikmati energi bersih, tetapi tentang kompetisi dan daya saing industri Indonesia di masa depan," ujarnya pada Jumat, 20 Februari 2026. Dino Patti Djalal, Pendiri dan Ketua FPCI, menambahkan bahwa target tersebut sangat realistis jika didukung program yang serius dan terlaksana dengan baik.
Dino menjelaskan, potensi energi surya nasional mencapai sekitar 3.294 GW, sementara kapasitas terpasang saat ini hanya sekitar 954,54 MWp. "100 gigawatt dalam 10 tahun itu menurut kami adalah suatu hal yang sangat realistis dan bisa dicapai asal kita serius dan memiliki program yang juga terlaksana dengan baik," tegasnya. Program ini dirancang tidak hanya untuk mencapai net-zero emission pada 2060, tetapi juga untuk memperluas akses listrik di daerah terpencil.
Tiga Alasan Penting Percepatan PLTS
Dino menguraikan setidaknya tiga alasan mendasar mengapa Indonesia harus mempercepat pengembangan PLTS:
- Ketahanan Energi: Indonesia masih bergantung pada subsidi besar dan terpapar volatilitas harga global. Energi surya menawarkan sumber domestik yang stabil dan bersih untuk jangka panjang.
- Industrialisasi Energi Bersih: Pengembangan PLTS tidak hanya memasang panel surya, tetapi juga membangun industri manufaktur, rantai pasok, teknologi, dan sumber daya manusia yang terkait.
- Keadilan Pembangunan: Program ini dapat menciptakan produktivitas desa melalui elektrifikasi, menjadikannya salah satu program energi terbarukan terbesar di Asia Timur.
"Listrik dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian dan pengelolaan hasil yang membuat desa-desa di Indonesia lebih produktif," tambah Dino.
Kesempatan Akses Listrik bagi Desa Terpencil
Agus Sari, CEO Landscape Indonesia, yang hadir dalam press briefing tersebut, menyoroti peluang program 100 GW PLTS dalam memberikan akses listrik bagi desa-desa terpencil. Ia mengkritik regulasi pasar kelistrikan Indonesia yang dinilai tidak kompetitif akibat subsidi besar dan masalah akses di beberapa wilayah.
"Sudah lama Indonesia berkembang, tapi sekian lamanya, ada desa yang jaraknya hanya 2-3 jam dari ibu kota, masih banyak yang sebenarnya tidak menikmati listrik," ungkap Agus. "Jadi, ini adalah suatu kesempatan untuk kita memberikan akses kepada mereka yang belum pernah punya akses kepada listrik."
Dari total 100 GW, sekitar 80 ribu megawatt akan dialokasikan untuk desa-desa di seluruh Indonesia, dengan skema satu megawatt per desa. Hal ini sejalan dengan upaya dekarbonisasi yang memerlukan penambahan kapasitas energi terbarukan diiringi pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan PLTU diesel.
Dampak Positif bagi Ekonomi dan Lingkungan
Transisi energi melalui pengembangan 100 GW PLTS diproyeksikan membawa dampak positif yang luas, termasuk:
- Peningkatan investasi infrastruktur energi bersih.
- Penguatan industri manufaktur dan hilirisasi energi terbarukan.
- Penciptaan lapangan kerja hijau yang berkelanjutan.
- Peningkatan kesehatan masyarakat akibat pengurangan polusi.
- Pertumbuhan produktivitas melalui akses listrik yang merata.
Program ini tidak hanya mendukung target energi terbarukan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia dengan mengurangi ketergantungan pada impor energi dan membangun ekosistem industri lokal. Dengan komitmen yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan, realisasi 100 GW PLTS diharapkan dapat menjadi motor pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia.



