Delegasi Indo-Pasifik Perkuat Kerja Sama Energi di Tengah Konflik Timur Tengah
Delegasi pemerintah dan pelaku bisnis dari kawasan Indo-Pasifik telah menegaskan komitmen mereka untuk mengamankan dan menjaga pasokan energi yang stabil di kawasan tersebut, terutama di tengah konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Pertemuan ini berlangsung dalam Forum Menteri dan Bisnis Keamanan Energi Indo-Pasifik yang digelar selama dua hari di Tokyo, Jepang.
Komitmen dan Investasi Infrastruktur
Menteri Perindustrian Jepang, Ryosei Akazawa, menyampaikan dalam konferensi pers bahwa para peserta forum menekankan pentingnya investasi dalam infrastruktur energi yang stabil dan andal. "Seperti untuk tenaga nuklir dan gas alam cair, untuk mengatasi permintaan energi yang tinggi di Asia," ujar Ryosei, seperti dilaporkan Antara pada Senin, 16 Maret 2026.
Forum tersebut diselenggarakan bersama oleh Jepang dan Amerika Serikat, berlangsung di saat Selat Hormuz—jalur perairan sempit yang dilalui sebagian besar minyak dari Timur Tengah menuju Asia—secara efektif diblokir oleh Iran di tengah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan negara tersebut.
Peran Indonesia dalam Pasokan Energi Global
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya kerja sama antarnegara yang saling menguntungkan dalam forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business (IPEM) Forum di Tokyo. "Di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia saat ini, kita perlu memperkuat kolaborasi, yang saling mengangkat satu sama lain dan bukan justru saling menjatuhkan," kata Bahlil di hadapan para delegasi yang terdiri dari menteri hingga pelaku industri energi.
Bahlil juga menyoroti kontribusi Indonesia dalam mendukung pasokan energi global. Indonesia menunjukkan komitmen tersebut dengan mengirimkan 150 kargo liquefied natural gas (LNG) pada tahun 2025 lalu, serta menyuplai sekitar setengah pasokan batu bara yang diperdagangkan di dunia. Selain itu, Indonesia merupakan produsen dan eksportir crude palm oil (CPO) terbesar di dunia, dengan volume ekspor mencapai sekitar 30 juta ton setiap tahun.
Hasil Pertemuan dan Pernyataan Bersama
Pertemuan ini menghasilkan pernyataan bersama yang menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus menghormati pilihan jalur transisi energi yang ditetapkan oleh masing-masing negara. Menteri Dalam Negeri AS, Doug Burgum, menegaskan, "Memperkuat kemitraan di seluruh Indo-Pasifik sangat penting untuk keamanan dan kemakmuran global." Ia juga berjanji untuk memperluas ekspor energi AS dan melawan aktor-aktor yang menggunakan energi sebagai alat kontrol.
Di sela-sela forum, Jepang dan Amerika Serikat menyepakati pembentukan tim respons cepat untuk mengatasi gangguan pada rantai pasokan mineral penting, serta memperkuat kerja sama bilateral di sektor energi. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan stabilitas pasokan energi di tengah gejolak geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
