BRIN dan Rosatom Perkuat Kerja Sama Nuklir: Dari Infrastruktur PLTN hingga Riset
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia perlu mempercepat persiapan dalam menghadapi tantangan energi di masa depan. Salah satu upaya yang dinilai sangat penting untuk menjaga kedaulatan energi jangka panjang adalah pengembangan teknologi nuklir secara menyeluruh.
Kunjungan Strategis ke Markas Rosatom
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa pihaknya sedang mematangkan langkah-langkah konkret untuk mempercepat transisi energi yang berkelanjutan, sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah. Hal ini dilakukan melalui kunjungan strategis ke markas Rosatom di Rusia pada Rabu, 8 April 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Arif Satria beserta jajaran BRIN melakukan diskusi intensif dengan First Deputy CEO Rosatom Kirill Komarov dan anggota Board of Directors Rosatom. Fokus utama pembahasan mencakup penjajakan kolaborasi teknis dan pengembangan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.
"Diskusi kami dengan Rosatom bukan sekadar pertemuan formal, melainkan upaya menjajaki langkah-langkah nyata untuk menghadirkan energi masa depan yang stabil dan bersih bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Arif dalam keterangan tertulis pada Kamis, 16 April 2026.
Rekam Jejak Rosatom dan Peluang Strategis
Sebagai salah satu pemain utama dalam industri nuklir global, Rosatom dinilai memiliki rekam jejak yang mumpuni bagi Indonesia untuk melakukan akselerasi pengembangan energi nuklir. Arif menekankan bahwa pengalaman panjang Rusia dalam mengelola energi nuklir merupakan peluang strategis yang harus dimanfaatkan melalui skema kemitraan yang setara.
"Kita ingin memperkuat kapasitas riset dan inovasi lokal agar ekosistem nuklir kita nanti tidak hanya aman dan andal, tetapi juga berkelanjutan karena dikelola oleh talenta-talenta terbaik negeri sendiri," kata Arif.
Ia menjelaskan bahwa orientasi kerja sama dengan Rosatom tidak hanya terpaku pada pengadaan infrastruktur fisik, melainkan pada pembangunan ekosistem riset yang menyeluruh. "Fokus kami adalah kolaborasi yang komprehensif. Jadi, ini bukan sekadar beli teknologi, tapi kita dorong adanya transfer teknologi yang masif," ucapnya.
Sejarah Kerja Sama dan Komitmen Keamanan
Diketahui bahwa hubungan Indonesia dan Rusia di sektor ketenaganukliran telah terjalin selama beberapa dekade. Kerja sama ini mencakup berbagai aspek penting seperti:
- Penelitian dan pengembangan teknologi nuklir
- Pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
- Produksi radioisotop untuk bidang kesehatan dan industri
Melalui BRIN, pemerintah berkomitmen untuk terus memastikan bahwa setiap langkah pengembangan nuklir di Tanah Air selalu mengedepankan tujuan damai dan standar keamanan internasional tertinggi.
Optimalisasi Reaktor Riset yang Ada
Contoh teknologi yang sedang dikembangkan oleh BRIN mencakup optimalisasi tiga reaktor riset yang telah dimiliki Indonesia, yaitu:
- Reaktor Serpong (RSG-GAS)
- Reaktor Bandung (TRIGA)
- Reaktor Yogyakarta (Kartini)
Reaktor-reaktor tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penting seperti penelitian, pelatihan sumber daya manusia, serta produksi radioisotop yang digunakan di bidang kesehatan dan industri. Dengan kerja sama yang diperkuat dengan Rosatom, BRIN berharap dapat mengakselerasi pengembangan energi nuklir yang aman, andal, dan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia.



