BMKG Ungkap Analisis Mendalam Soal Gempa M 7,6 yang Mengguncang Sulut dan Malut
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memberikan penjelasan rinci mengenai gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut). Gempa yang terjadi pada Kamis, 2 April 2026 pukul 05.48 WIB ini dikategorikan sebagai gempa dangkal dengan potensi tsunami yang telah terwujud.
Karakteristik Gempa: Dangkal dan Mekanisme Pergerakan Naik
Dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi BMKG, Faisal menyatakan bahwa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa ini termasuk dalam jenis gempa dangkal. "Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal," tegas Faisal.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gempa tersebut disebabkan oleh deformasi kerak bumi, khususnya aktivitas subduksi di Laut Maluku. Analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. "Akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi yaitu aktivitas subduksi laut Maluku. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik," ujar Faisal.
Lokasi dan Dampak: Tsunami Terdeteksi di Dua Wilayah
Gempa berlokasi di koordinat 1,25 lintang utara dan 126,27 bujur timur, dengan kedalaman 62 kilometer di bawah permukaan laut. BMKG mencatat bahwa gempa ini memicu gelombang tsunami yang terdeteksi di dua lokasi berbeda.
Melalui akun X resminya, BMKG melaporkan bahwa tsunami telah terdeteksi di Halmahera Barat pada pukul 07.08 WITA dengan ketinggian sekitar 0,3 meter. Selain itu, tsunami juga teramati di Bitung pada pukul 07.15 WITA dengan ketinggian 0,2 meter. Pemutakhiran informasi ini menunjukkan respons cepat dari BMKG dalam memantau dampak gempa terhadap potensi bencana lanjutan.
Kejadian ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan gempa dan tsunami. Analisis BMKG tidak hanya menjelaskan penyebab gempa, tetapi juga memberikan data real-time yang krusial untuk mitigasi risiko dan keselamatan publik.



