Menteri ESDM Bahlil Dampingi Prabowo di AS untuk Perkuat Diplomasi Energi Strategis
Bahlil Dampingi Prabowo di AS untuk Diplomasi Energi

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Dampingi Presiden Prabowo dalam Pertemuan Bilateral dengan AS

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut serta mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Washington DC. Kunjungan ini bertujuan memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan AS, dengan penekanan khusus pada eksplorasi kerja sama strategis di sektor energi dan sumber daya mineral.

Strategi Diplomasi Energi untuk Ketahanan Nasional

Kehadiran Menteri ESDM dalam misi ini merupakan bagian integral dari diplomasi energi Indonesia. Menurut siaran pers Kementerian ESDM, diplomasi ini dirancang untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mendorong hilirisasi industri, serta membuka peluang investasi dan pengembangan teknologi. Tujuannya adalah mendukung pertumbuhan industri dalam negeri dan menjaga stabilitas perekonomian.

Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa sektor energi memainkan peran sentral dalam meningkatkan daya saing industri nasional. "Diplomasi yang akan dilakukan Bapak Presiden merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global. Di sektor energi, kami akan memastikan setiap peluang kerja sama dapat mendukung ketahanan energi dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional," ujarnya.

Kolaborasi Menuju Target Net Zero Emission 2060

Dalam rangkaian pertemuan ini, Pemerintah Indonesia akan melakukan komunikasi strategis untuk memperkuat kerja sama di bidang energi dan sumber daya mineral. Bahlil menyatakan bahwa semua bentuk kolaborasi yang dijajaki bertujuan memperkuat kapasitas nasional dan mendukung ketahanan energi jangka panjang.

"Kami akan mendorong kolaborasi yang berorientasi pada peningkatan investasi, transfer teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Prinsipnya adalah kemitraan yang saling menguntungkan dan tetap berpijak pada kepentingan nasional," kata Bahlil. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 melalui penguatan bauran energi yang beragam, efisien, dan berkelanjutan.

Bahlil menambahkan, "Ketahanan dan kemandirian energi adalah fondasi utama pembangunan. Karena itu, setiap langkah diplomasi energi ke depan harus memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan produktivitas nasional." Pertemuan bilateral ini juga mencakup diskusi tentang praktik ilegal di sektor energi, menegaskan komitmen Indonesia dalam melawan aktivitas tersebut.

Dengan fokus pada diplomasi energi, langkah ini diharapkan dapat membawa manfaat konkret bagi Indonesia, termasuk peningkatan investasi asing, adopsi teknologi hijau, dan percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon. Ini merupakan upaya strategis untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif di panggung global sambil mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.