Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi akan segera mengumumkan kesepakatan nuklir yang telah lama dirundingkan, menurut laporan New York Times yang mengutip dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Pengumuman tersebut dijadwalkan pada Rabu, 22 Juli 2026 waktu setempat, di tengah meningkatnya kembali pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.
Kesepakatan Nuklir 30 Tahun dengan Pengayaan Uranium
Kesepakatan ini akan berlaku selama 30 tahun dan mencakup ketentuan yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika untuk membangun fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi, jika studi bersama menyimpulkan bahwa hal itu diperlukan, demikian dilaporkan Wall Street Journal. Pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut akan memberikan miliaran dolar bagi industri nuklir AS.
Namun, sejumlah anggota parlemen AS dari kedua partai dan pejabat Israel telah menyuarakan penentangan terhadap proyek nuklir sipil untuk Arab Saudi. Mereka khawatir bahwa proyek tersebut pada akhirnya dapat dialihfungsikan untuk mengembangkan senjata nuklir. Kesepakatan diperkirakan akan diajukan ke Kongres AS dalam beberapa hari mendatang, meskipun persetujuan Kongres tidak diperlukan untuk pengesahannya.
Ketegangan dengan Iran dan Houthi Meningkat
Pengumuman kesepakatan nuklir ini terjadi di tengah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta sekutu Iran di Yaman, yaitu pemberontak Houthi. Houthi telah mengumumkan akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Saudi, dan kedua pihak saling baku tembak untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, mengancam kelangsungan gencatan senjata yang berlaku sejak 2022.
Penjualan Senjata AS ke Arab Saudi Senilai Rp33,5 Triliun
Pada Rabu, 15 Juli 2026, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan senjata senilai US$1,96 miliar (sekitar Rp33,5 triliun) untuk memperkuat pertahanan udara Arab Saudi. "Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan Sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Kawasan Teluk," kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah rilis, dilansir kantor berita AFP, Kamis, 16 Juli 2026.
Senjata yang dijual mencakup hingga 20.000 Sistem Senjata Pembunuh Presisi Canggih (Advanced Precision Kill Weapon Systems) beserta hulu ledaknya, yang digambarkan oleh situs web Angkatan Laut AS sebagai "cara yang murah untuk menghancurkan target sambil membatasi kerusakan tambahan dalam pertempuran jarak dekat." Kontraktor utama adalah BAE Systems di Nashua, New Jersey.
"Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk mencegah ancaman saat ini dan di masa mendatang dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS, dan pasukan regional dan NATO lainnya," tambah rilis tersebut.



