40 Rusa Timor Kembali ke Habitat Alami untuk Perkuat Rantai Ekologi Savana
Sebanyak 40 ekor Rusa Timor (Rusa timorensis) yang dilindungi telah berhasil dilepasliarkan ke Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur. Pelepasliaran ini dilakukan pada dini hari tanggal 12 Februari 2026, setelah melalui proses translokasi dari penangkaran di Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Tujuan utama dari aksi konservasi ini adalah untuk menguatkan populasi rusa di habitat alaminya sekaligus mengembalikan peran ekologisnya yang vital dalam ekosistem savana di wilayah Jawa Timur.
Proses Pelepasliaran yang Teliti dan Berbasis Ilmiah
Berdasarkan laporan resmi dari ksdae.kehutanan.go.id, kegiatan pelepasliaran ini dilaksanakan dengan tahapan yang ketat, dimulai dari pemeriksaan kesehatan menyeluruh, serah terima satwa, hingga pelepasan ke alam liar. Sebelum translokasi, seluruh satwa menjalani pemeriksaan kesehatan yang komprehensif. Dari total 40 ekor rusa, terdiri atas 15 jantan, 21 betina, dan 4 anakan, dengan mayoritas memiliki Body Condition Score (BCS) 3 atau dalam kategori ideal. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa semua satwa layak untuk dilepasliarkan, dengan indikator seperti responsif, nafsu makan normal, serta kemampuan berdiri dan berjalan yang baik.
Pelepasliaran dilakukan dengan metode hard release yang disaksikan langsung oleh petugas dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama perwakilan Balai Taman Nasional Baluran. Pemilihan waktu dini hari dilakukan dengan mempertimbangkan karakter crespuscular Rusa Timor, yang aktif pada sore hingga malam hari dan sensitif terhadap suhu tinggi serta stres. Monitoring awal dilaksanakan selama beberapa jam setelah pelepasan untuk memastikan adaptasi berjalan lancar dan tidak terjadi disorientasi pada kelompok rusa.
Adaptasi Awal yang Menunjukkan Tanda Positif
Pemantauan pada pagi harinya setelah pelepasliaran menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Rusa-rusa tersebut terpantau masih berada di sekitar lokasi pelepasan dan telah membentuk satu koloni yang kompak. Perilaku ini mengindikasikan mekanisme sosial alami, di mana rusa memilih tetap berkelompok sebagai strategi adaptasi awal terhadap lingkungan barunya. Mereka mulai melakukan eksplorasi terbatas, merumput, dan menunjukkan respons kewaspadaan yang normal terhadap suara serta pergerakan di sekitarnya.
Secara ekologis, fase adaptasi awal ini sangat krusial. Adaptasi yang stabil menjadi indikator keberhasilan translokasi, sebelum satwa perlahan-lahan mulai memperluas ruang jelajahnya di kawasan savana. Sebagai herbivora kunci, Rusa Timor memiliki peran strategis dalam menjaga dinamika vegetasi savana, mendistribusikan biji-bijian, dan menjadi bagian integral dari jejaring trofik alami. Kehadiran 40 individu baru ini di Taman Nasional Baluran tidak hanya sekadar penambahan populasi, tetapi juga sebagai penguatan fungsi ekosistem secara menyeluruh.
Harapan untuk Populasi dan Ekowisata di Masa Depan
Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Purwantono, menyampaikan harapannya agar Rusa Timor yang telah dilepasliarkan dapat beradaptasi dengan baik di habitat barunya. "Harapannya, Rusa Timor yang sudah dilepasliarkan kembali ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Baluran mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang baru sehingga dapat berkembang biak untuk menambah populasinya di alam, mengisi rantai ekologis, dan nantinya dapat menjadi atraksi wisata bagi pengunjung," ujar Purwantono.
Translokasi ini menjadi simbol bahwa upaya konservasi tidak berhenti hanya pada penyelamatan satwa, tetapi juga mencakup pemulihan proses ekologis yang utuh, berbasis sains, prosedur yang tepat, serta memperhatikan kesejahteraan satwa. Dengan demikian, koloni rusa ini berdiri sebagai simbol harmoni menuju kehidupan liar yang sesungguhnya, dan mata rantai ekologi di savana Baluran pun kembali terhubung dengan lebih kuat.