Di bawah bayang-bayang Golgota yang memanjang melintasi garis Khatulistiwa, perayaan Paskah sering kali tiba sebagai kemeriahan yang ganjil dan penuh kontemplasi. Sementara lonceng-lonceng gereja berdenting dengan khusyuk dan lilin-lilin dinyalakan dalam ritual seremonial yang sakral, di luar gerbang rumah ibadah, drama-drama penderitaan manusia lainnya terus dipentaskan tanpa jeda dan tanpa henti.
Paskah dan Realitas Kekuasaan di Indonesia
Jika Paskah secara tradisional dimaknai sebagai permenungan mendalam tentang penderitaan Tuhan yang memanusiakan diri demi keselamatan umat, maka realitas kekuasaan di Indonesia belakangan ini justru menunjukkan gerakan yang sungsang dan paradoksal. Di sini, manusia sering kali berupaya menjadi seperti tuhan dengan cara yang keliru, yaitu dengan menumbalkan kemanusiaan sesamanya sendiri.
Merenungkan Paskah dalam Konteks Kekinian
Merenungkan makna Paskah dalam konteks Indonesia hari ini bukanlah tugas yang ringan atau sederhana. Hal ini menuntut keberanian yang luar biasa untuk menatap secara jujur berbagai luka baru yang terus bermunculan di tubuh bangsa. Luka-luka ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh aspek sosial, politik, dan moral yang dalam.
Dalam semangat Paskah yang seharusnya membawa pesan penebusan dan harapan, kita justru dihadapkan pada kenyataan pahit di mana kekuasaan sering kali digunakan untuk mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Fenomena ini mengundang pertanyaan kritis tentang bagaimana kita sebagai bangsa dapat belajar dari refleksi keagamaan ini untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan berempati.
Oleh karena itu, Paskah seharusnya menjadi momen untuk introspeksi kolektif, di mana kita tidak hanya merayakan kebangkitan, tetapi juga mengakui dan berupaya menyembuhkan penderitaan yang masih terjadi di sekitar kita. Dengan demikian, perayaan ini dapat bermakna lebih dalam dan relevan dengan tantangan zaman yang dihadapi Indonesia saat ini.



