Puasa di Indonesia: Antara Kesalehan Sejati dan Kontradiksi Sosial
Puasa Indonesia: Kontradiksi antara Kesalehan dan Sosial

Puasa di Indonesia: Antara Niat Sunyi dan Perayaan Riuh

Menjelang Ramadan, kita dihadapkan pada fakta yang tak terbantahkan: puasa selalu dimulai dengan niat yang sunyi, tetapi di Indonesia, puasa itu sendiri sering berakhir sebagai perayaan yang riuh dan penuh hiruk-pikuk. Kita menahan makan dan minum sejak fajar, namun tidak pernah benar-benar menahan diri dari keinginan untuk terlihat saleh di mata orang lain. Kita selalu menyebut bulan ini sebagai bulan suci, tetapi sekaligus memenuhinya dengan lomba pencitraan dan kompetisi moral yang tak tertulis namun sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Paradoks Kesalehan dalam Puasa

Puasa di negeri ini seolah menjadi paradoks yang kompleks, di mana semakin banyak simbol kesalehan yang ditampilkan, semakin jarang percakapan tentang kedalaman dari kesalehan itu sendiri. Spanduk religius menjamur di setiap sudut kota, konten dakwah bertebaran di media sosial, tetapi kita seringkali menyeleksi empati dan toleransi dalam praktiknya. Kita selalu ingin dihormati saat berpuasa, namun tidak pernah siap menghormati dan merayakan perbedaan yang ada di sekitar kita.

Di tengah kontradiksi itu, menarik untuk melihat puasa melalui lensa lintas budaya, seperti Sudra dan China. Konteks dua kebudayaan ini penting sebagai cermin yang mungkin lebih jujur daripada klaim kita sendiri mengenai esensi puasa itu sendiri.

Sudra: Puasa Tanpa Kasta

Dalam sistem sosial Hindu klasik, Sudra ditempatkan pada posisi terbawah dalam struktur Varna. Apa yang disebut Upavasa sejatinya merupakan spiritualitas yang menghadirkan puasa sebagai ironi yang halus, yakni lapar itu tidak pernah mengenal hirarki. Rasa haus tidak bertanya tentang silsilah atau latar belakang sosial. Tubuh tidak pernah peduli pada kasta atau status, karena kebutuhan dasar manusia akan makanan dan minuman adalah universal dan setara bagi semua orang.

Pelajaran dari budaya Sudra mengingatkan kita bahwa puasa seharusnya menjadi momen untuk meruntuhkan tembok-tembok sosial, bukan memperkuatnya. Dalam konteks Indonesia, di mana keragaman budaya dan agama begitu kaya, puasa bisa menjadi ajang untuk merayakan kesetaraan dan kemanusiaan, bukan sekadar pamer kesalehan.

Refleksi untuk Puasa yang Lebih Bermakna

Dengan mempertimbangkan pandangan dari budaya lain, kita diharapkan dapat merefleksikan kembali makna puasa di Indonesia. Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mengasah empati, menghormati perbedaan, dan mencari kedalaman spiritual yang sejati. Mari kita jadikan Ramadan sebagai kesempatan untuk melampaui kontradiksi dan menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi semua.