Paus Leo XIV Tegaskan Tak Takut pada Kritikan Trump Soal Seruan Perdamaian
Paus Leo Tak Takut Trump, Tegas Serukan Perdamaian

Paus Leo XIV Tegas Menentang Perang, Tak Gentar Hadapi Kritikan Trump

Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Leo XIV, dengan tegas menyatakan dirinya tidak takut pada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap kritikan keras Trump yang mengecam seruan Paus untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Dalam pernyataannya, Paus Leo menegaskan bahwa dirinya memiliki "kewajiban moral" yang tidak dapat diabaikan untuk bersuara menentang konflik bersenjata.

Kritikan Trump dan Respons Tegas dari Pemimpin Katolik

Sebelum melakukan penerbangan dari Roma, Italia, menuju Aljir, Aljazair, untuk kunjungan resminya, Paus Leo yang merupakan kelahiran Amerika Serikat ini menerima hujatan dan kecaman langsung dari Trump. Presiden AS tersebut secara terbuka mengkritik komentar Paus Leo yang menyerukan perdamaian di Timur Tengah, wilayah yang sedang bergulat dengan perang yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Trump semakin mempertegas kritikannya dengan menyebut pemimpin umat Katolik sedunia itu sebagai "lemah" dan menegaskan bahwa "tidak perlu meminta maaf" atas kebijakannya. Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan: "Paus Leo mengatakan hal-hal yang salah. Dia sangat menentang apa yang saya lakukan terkait Iran, dan Anda tidak bisa memiliki Iran yang punya senjata nuklir."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Paus Leo: "Kami Bukan Politisi"

Paus Leo telah menanggapi kritikan Trump tersebut saat berbicara kepada para wartawan di dalam pesawat kepausan sebelum tiba di Aljir. Dengan sikap yang tenang namun tegas, Paus Leo menjelaskan bahwa dirinya "bukan seorang politisi" dan "tidak berniat untuk berdebat" dengan Presiden Amerika Serikat tersebut.

"Kami bukan politisi, kami tidak berupaya membuat kebijakan luar negeri seperti yang dia sebutkan dengan perspektif yang sama seperti yang mungkin dia pahami," ujar Paus Leo. "Yang saya katakan adalah bahwa misi Gereja sangat jelas. Injil mengatakan... berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian. Saya percaya bahwa Gereja memiliki kewajiban moral untuk berbicara dengan sangat jelas menentang perang dan mendukung perdamaian dan rekonsiliasi."

Paus Leo kemudian menambahkan pernyataan yang semakin mempertegas posisinya: "Saya tidak takut, baik terhadap pemerintahan Trump, maupun untuk berbicara lantang tentang pesan Injil."

Trump Sebut Paus Leo "Lemah" dan Dikritik Italia

Dalam kritikannya yang semakin keras, Trump menyebut Paus Leo "bermain-main dengan negara (Iran) yang menginginkan senjata nuklir". Dia mengkritik Paus Leo sebagai "LEMAH dalam hal kejahatan, dan buruk dalam kebijakan luar negeri", sembari menyiratkan bahwa para kardinal Vatikan hanya memilih Leo sebagai Paus karena dia berasal dari Amerika Serikat.

Trump menambahkan bahwa dirinya "bukan penggemar berat Paus Leo". Namun, kritikan Trump ini justru menuai kecaman dari Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, yang menyebut kritikan Trump terhadap Paus Leo itu sebagai "tidak dapat diterima".

Meloni dengan tegas menyatakan bahwa "benar dan wajar bagi (Paus Leo) untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk semua bentuk perang". Pernyataan dukungan dari pemimpin Italia ini semakin mengukuhkan posisi Paus Leo dalam memperjuangkan perdamaian di tengah konflik internasional yang memanas.

Ketegangan antara pemimpin spiritual tertinggi Katolik dan Presiden Amerika Serikat ini menyoroti perbedaan mendasar dalam pendekatan terhadap konflik Timur Tengah, sekaligus menunjukkan komitmen Paus Leo yang tidak tergoyahkan dalam menyuarakan perdamaian meski menghadapi tekanan politik dari kekuatan dunia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga