Komunitas Muslim Australia Murka Atas Gangguan Polisi Saat Salat Berjemaah di Sydney
Sejumlah pemimpin dan organisasi Muslim di Australia menyatakan kemarahan mendalam terhadap tindakan polisi yang terlihat mengganggu jalannya salat Magrib berjemaah di depan gedung Sydney Town Hall, Senin malam (09/02). Video yang viral di media sosial menunjukkan petugas memindahkan secara fisik dua orang pria yang sedang salat, sementara beberapa jemaah lainnya tetap melanjutkan ibadah hingga selesai.
Kecaman dari Organisasi Muslim
Insiden ini memicu kecaman keras dari berbagai lembaga, termasuk Australian National Imam Council (ANIC), Lebanese Muslim Association, dan Islamophobia Register Australia. Dalam pernyataan resmi yang diterima ABC Indonesia, mereka menegaskan bahwa rekaman tersebut menunjukkan umat Muslim dilecehkan saat menjalankan hak asasi manusia yang paling mendasar, yaitu hak untuk beribadah dengan bebas dan damai.
"Tidak ada pembenaran bagi polisi untuk mengganggu salat dengan cara yang agresif, menghina, atau diskriminatif," bunyi pernyataan tersebut. "Perilaku ini sangat mengganggu dan merupakan kegagalan besar dalam standar kepolisian, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap kebebasan beragama."
Tuntutan Jawaban dari Pihak Berwajib
Sheikh Shadi Asuleiman, presiden ANIC, menuntut "jawaban yang jelas" dari kepolisian dan pemerintahan New South Wales (NSW). Ia menyatakan keterkejutan dan kemarahan atas video yang menunjukkan jemaah didorong dan diperlakukan secara kasar saat salat dengan tenang.
"Hal ini sangat menyedihkan, tidak dapat diterima, dan tidak mencerminkan Australia yang kita kenal dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi," ujarnya dalam siaran langsung di ABC News Channel. "Kemarahan dan keprihatinan mendalam ini dirasakan oleh lebih dari 1 juta Muslim Australia dan banyak pemimpin agama lainnya di seluruh Australia."
Latar Belakang Unjuk Rasa yang Ricuh
Insiden ini terjadi setelah ribuan warga berkumpul di pusat kota Sydney untuk menentang kunjungan Presiden Israel, Isaac Herzog, yang datang memenuhi undangan pemerintah Australia. Unjuk rasa yang berakhir ricuh ini menyebabkan setidaknya 27 orang ditangkap, dengan sepuluh di antaranya dituduh menyerang polisi dan sembilan orang sudah didakwa, berusia antara 19 dan 67 tahun.
Polisi memperkirakan 6.000 orang berkumpul di Balai Kota untuk unjuk rasa yang awalnya direncanakan damai oleh Palestine Action Group (PAG). Namun, kerumunan mencoba berjalan ke arah gedung Parlemen NSW meski sudah dilarang berdasarkan aturan Public Assembly Restriction Declaration (PARD) dan Major Events Act.
Pernyataan dari Pihak Kepolisian dan Pemerintah
Asisten Komisaris Peter McKenna mengklaim para petugas polisi "diancam, didorong, dan diserang" dalam sejumlah bentrokan. Sementara itu, Komisaris Polisi NSW, Mal Lanyon, membela tindakan anggotanya dengan menyatakan bahwa polisi melakukan apa yang diperlukan untuk menjaga keamanan masyarakat dari kerumunan massa yang marah dan agresif.
Premier NSW, Chris, juga membela keputusan taktis polisi dalam situasi sulit, menekankan bahwa semua rekaman akan ditinjau, termasuk kamera tubuh polisi. Ia mengimbau publik untuk tidak menilai berdasarkan klip media sosial singkat tanpa mempertimbangkan konteks lengkapnya.
Reaksi dari Perdana Menteri Australia
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengungkapkan kesedihannya atas bentrokan dalam unjuk rasa tersebut. "Ini adalah pemandangan yang menurut saya seharusnya tidak terjadi. Orang-orang seharusnya dapat mengekspresikan pandangan mereka secara damai," katanya kepada Triple M Hobart. Ia menegaskan bahwa polisi telah memberikan rute tertentu untuk pawai damai, tetapi tujuan tersebut tidak tercapai.
Kunjungan Herzog ke Australia bertujuan untuk menemui komunitas Yahudi dan menyampaikan solidaritas setelah serangan teror di Bondi pada Desember tahun lalu. Namun, kunjungan ini justru memicu protes besar-besaran yang berujung pada insiden kontroversial ini.