Menag Tekankan Nilai Feminin dan Ramadhan Hijau di Ceramah Tarawih Perdana Istiqlal
Menag Tekankan Nilai Feminin dan Ramadhan Hijau di Istiqlal

Menag Soroti Konsep Ramadhan Hijau dan Nilai Feminin dalam Agama di Istiqlal

Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya konsep "Ramadhan Hijau" yang mengedepankan nilai kelembutan atau sifat feminin dibandingkan maskulin saat menyampaikan ceramah salat tarawih hari pertama Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (18/2/2026). Dalam pidatonya, Nasaruddin menyebut bahwa pesan utama Ramadhan adalah melembutkan hati dan membangun sikap ramah terhadap sesama maupun alam.

Allah SWT dan Sifat Feminin dalam Keberagamaan

Nasaruddin menjelaskan, "Allah SWT lebih menonjolkan dirinya sebagai the God, bukan the Lord. God itu feminin, Lord itu maskulin. Allah memperkenalkan dirinya sebagai yang Maha Lembut." Ia mengajak umat beragama untuk memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dengan bersikap "hijau", yang dimaknai sebagai sikap tenang dan tidak mudah marah, bukan "merah" yang cenderung agresif.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu menambahkan, "Bulan Ramadhan ini mari kita niatkan bahwa saya akan menjinakkan diri saya, melembutkan hati, dan membersihkan kepala saya yang kotor. Saya akan bersahabat dengan alam semesta." Pernyataan ini menegaskan komitmen untuk mengintegrasikan spiritualitas dengan kesadaran ekologis.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kegiatan Ramadhan di Masjid Istiqlal dan Inisiatif Ramadhan Hijau

Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Istiqlal akan menggelar berbagai kegiatan rutin, termasuk:

  • Salat tarawih yang didahului lantunan qari internasional secara bergiliran hingga akhir Ramadhan.
  • Kultum oleh penceramah dari berbagai latar belakang, seperti tokoh publik, artis religius, atau da'i kondang.
  • Peringatan Nuzulul Quran yang dapat diikuti negara-negara tetangga dengan melibatkan para Menteri Agama se-Asia Tenggara.
  • Takbiran bersama dengan masjid-masjid raya di ibu kota Asia Tenggara, saling menyahut dalam kebersamaan.

Tema Ramadhan Hijau diangkat sebagai upaya menumbuhkan kesadaran pelestarian lingkungan dalam kehidupan beragama. Nasaruddin menuturkan, Istiqlal telah menerapkan sistem pembangkit listrik tenaga surya yang mendapat perhatian dunia internasional. "Biasanya yang menjadi sorotan adalah gedung pencakar langit di Dubai atau Qatar, tetapi tahun lalu yang menjadi perhatian dunia justru Masjid Istiqlal karena atap Istiqlal yang dipenuhi panel solar system. Dengan sistem ini, kami dapat menghemat energi dalam jumlah besar," ujarnya.

Selain itu, Masjid Istiqlal juga menerapkan sistem pengelolaan air terpadu dengan menampung seluruh air dalam bak besar untuk kemudian diolah kembali agar tidak terbuang ke saluran pembuangan. Inisiatif ini menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.

Dampak dan Partisipasi Jamaah

Kegiatan buka puasa di Istiqlal berlangsung rutin dengan partisipasi yang tinggi. Pada akhir pekan, jumlah jamaah yang berbuka puasa bisa mencapai 7.000–10.000 orang, sedangkan hari biasa sekitar 4.000–5.000 orang. Hal ini mencerminkan antusiasme masyarakat dalam menjalankan ibadah sekaligus mendukung program Ramadhan Hijau.

Dengan pesan yang disampaikan, Nasaruddin berharap Ramadhan tahun ini tidak hanya menjadi momen untuk memperdalam spiritualitas, tetapi juga untuk membangun hubungan yang harmonis dengan alam dan sesama manusia melalui nilai-nilai kelembutan dan kepedulian lingkungan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga