Menag: Halalbihalal Bukan Sekadar Rutinitas, Tapi Ruang Perkuat Ukhuah
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa tradisi halalbihalal tidak boleh dipandang hanya sebagai rutinitas tahunan pasca-Idulfitri. Menurutnya, kegiatan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam sebagai ruang untuk memperkuat ukhuah atau persaudaraan dalam berbagai aspek kehidupan.
Makna Mendalam di Balik Tradisi
Pernyataan ini disampaikan Nasaruddin dalam sambutannya pada acara silaturahmi nasional dan halalbihalal yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Sultan, Jakarta, pada Rabu, 15 April 2026. Dia menekankan pentingnya menjadikan momentum ini sebagai sarana untuk meluruskan kembali hubungan yang mungkin sempat renggang atau terganggu.
"Dalam tradisi kita, halalbihalal tentu bukan sekadar kebiasaan setelah Idul Fitri. Ia juga adalah ruang untuk meluruskan kembali hubungan, menghalalkan kembali yang sempat tersimpan di hati," ujar Nasaruddin dengan penuh semangat.
Dia menjelaskan bahwa momen halalbihalal memungkinkan hubungan antar-manusia terjalin dengan lebih baik dan harmonis. Lebih dari itu, kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat di antara semua pihak yang terlibat.
"Inilah cara kita untuk merawat hubungan dengan keikhlasan dan kerendahan hati. Di sinilah ukhuah akan tumbuh. Bukan hanya ukhuah islamiyah, tapi juga ukhuah wataniyah, bahkan juga ukhuwah makhluqiyah, sama-sama makhluk, termasuk alam semesta, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan benda-benda alam yang lain," sambungnya dengan penekanan pada konsep persaudaraan yang luas.
Harmoni dengan Lingkungan dan Konsep Ekoteologi
Nasaruddin juga menyoroti pentingnya harmoni antara manusia dan lingkungan sebagai bagian integral dari kehidupan beragama. Dia menyinggung konsep ekoteologi, yang menekankan hubungan spiritual dengan alam.
"Silaturahim sebagai sesama makhluk ini pun juga perlu kita tingkatkan penghayatannya, sebab tidak ada lingkungan khalifah yang sukses, tidak mungkin kita bisa menjadi abid yang hebat tanpa dukungan alam semesta yang kondusif," jelasnya, menggarisbawahi bahwa keberhasilan manusia sebagai khalifah di bumi bergantung pada dukungan lingkungan yang sehat.
Apresiasi untuk Peran MUI dan Ormas Islam
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin mengapresiasi peran MUI dan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang dinilai konsisten dalam menjaga stabilitas sosial dan memberikan arah bagi masyarakat. Dia mencatat bahwa sejak masa perjuangan kemerdekaan, pembangunan, hingga era modern saat ini, ormas Islam dan para ulama selalu hadir untuk menenangkan masyarakat dan memberikan panduan.
"Sejak masa perjuangan kemerdekaan, masa pembangunan, hingga hari ini, ormas Islam dan para ulama selalu hadir. Hadir untuk menenangkan masyarakat, dan hadir juga untuk memberikan arah," ungkapnya dengan rasa hormat.
Mitra Strategis di Tengah Tantangan Global
Lebih lanjut, Nasaruddin menyatakan bahwa pemerintah memandang MUI dan ormas Islam sebagai mitra strategis yang tak tergantikan, terutama dalam menghadapi dinamika global, disrupsi informasi, dan tantangan geopolitik yang kompleks saat ini.
"Di tengah dinamika global, disrupsi informasi, dan tantangan geopolitik, peran menjadi sangat penting. Majelis Ulama hadir sebagai penuntun arah, sebagai penjaga keseimbangan, dan sebagai rujukan yang meneduhkan di tengah berbagai perbedaan," tuturnya dengan keyakinan.
Dia menambahkan, "Pemerintah memandang Majelis Ulama Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya, sebagai mitra strategis yang tidak tergantikan. Karena itu, harapan kita semuanya ke depan sederhana namun mendasar, yaitu agar ormas tetap menjadi perekat umat, tetap menjadi penyejuk di tengah perbedaan, dan tetap menjadi kekuatan moral di dalam kehidupan berbangsa," imbuh Nasaruddin, menutup sambutannya dengan pesan optimis untuk masa depan.



