Ma'ruf Amin: Pola Pikir Kiai Wahab Hasbullah Jadi Rujukan Abad Kedua NU
Ma'ruf Amin: Pola Pikir Kiai Wahab Rujukan Abad Kedua NU

Ma'ruf Amin Soroti Pentingnya Pemikiran Kiai Wahab Hasbullah untuk NU di Abad Kedua

Wakil Presiden RI ke-13, Ma'ruf Amin, menilai bahwa pola pikir visioner Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Hasbullah, dapat menjadi rujukan penting dalam menghadapi 100 tahun kedua organisasi tersebut. Menurutnya, tantangan zaman yang semakin kompleks dan penuh fitnah memerlukan aktualisasi kembali semangat perjuangan para pendiri NU.

Relevansi Pemikiran di Tengah Tantangan Zaman

Dalam acara bedah buku tentang KH Abdul Wahab Hasbullah yang ditulis oleh KH Abdul Mun'im, DZ, di Auditorium KH M Rasjidi, Kementerian Haji dan Umrah RI, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026), Ma'ruf Amin menjelaskan bahwa situasi yang dihadapi NU saat ini bahkan lebih rumit dibanding masa lalu. "100 tahun ke depan kalau kita lihat keadaan sekarang, tentu tidak lebih mudah atau lebih gampang dari yang dulu. Sekarang ini tentu lebih kompleks," ujarnya.

Ia mengutip kitab I'anatut Thalibin yang menyebut zaman kini penuh fitnah, dengan hanya sedikit orang yang tetap berpegang pada kebenaran. Ma'ruf menekankan bahwa buku setebal 274 halaman dengan enam bab ini diharapkan dapat melahirkan generasi penerus dengan visi kebangsaan yang kuat, menginternalisasi nilai-nilai perjuangan Kiai Wahab.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Karya Buku sebagai Inspirasi bagi Generasi Penerus

Ma'ruf Amin memuji buku tersebut sebagai karya inspiratif yang luar biasa. "Tulisan Pak Mun'im tentang Kiai Wahab ini saya kira satu tulisan buku yang menurut saya luar biasa dan bisa menginspirasi kita semua untuk melahirkan kembali 'Wahab Hasbullah-Wahab Hasbullah' di abad kedua Nahdlatul Ulama," tuturnya.

Putri KH Abdul Wahab Hasbullah, Nyai Hj Hizbiyah Rochim, yang hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan rasa terharu karena jejak ayahnya terus dikaji secara ilmiah. Ia menyebut Kiai Wahab sebagai arsitek modernisasi dan diplomat ulung yang mampu mengelola perbedaan dengan damai sambil tetap teguh pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.

Pelajaran dari Fiqh Siyasah dan Harmoni Kebangsaan

Hizbiyah menambahkan bahwa buku ini mengajak masyarakat mengingat kembali perjuangan KH Abdul Wahab, khususnya dalam Fiqh Siyasah yang kokoh. "Beliau membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis bukanlah hal yang bertentangan. Pancasila dan Islam adalah harmoni yang membuat Indonesia tetap kokoh berdiri sampai hari ini," katanya.

Ma'ruf Amin menegaskan, memasuki abad kedua NU, diperlukan perumusan kembali semangat perjuangan yang telah dirintis para pendiri, termasuk gagasan Kiai Wahab. "Dalam menghadapi 100 tahun kedua Nahdlatul Ulama, saya kira pola pikir yang dikembangkan oleh Hadratussyaikh Kiai Wahab Hasbullah ini bisa menjadi rujukan kita. Jadi bagaimana kita mengaktualkan kembali cara berpikir ini," pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga