Umat Hindu di seluruh Indonesia menjalani ibadah khusyuk dan sakral pada perayaan Hari Raya Kuningan 2026, yang jatuh pada hari Sabtu, 27 Juni 2026. Perayaan ini merupakan salah satu hari suci yang memiliki makna mendalam bagi umat Sedharma.
Penentuan Tanggal Hari Raya Kuningan
Berdasarkan perhitungan kalender Bali atau pawukon, Hari Raya Kuningan selalu diperingati tepat 10 hari setelah perayaan Hari Raya Galungan, yakni pada hari Sabtu Kliwon wuku Kuningan. Surat Edaran Nomor B-253/DJ.VI/Dt.VI.I.3/BA.03/09/2025 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI menetapkan bahwa Hari Raya Kuningan tahun 2026 jatuh pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Makna Hari Raya Kuningan
Hari Raya Kuningan merupakan momen spiritual bagi umat Hindu untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Perayaan ini juga dimaknai sebagai hari kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma). Umat Hindu melaksanakan persembahyangan di pura maupun di sanggah atau merajan masing-masing.
Dalam perayaan ini, umat Hindu menghaturkan sesajen berupa banten kuningan yang terbuat dari beras kuning, sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur. Selain itu, tradisi membuat tamiang (anyaman bambu) dan endongan (tas kecil) juga dilakukan sebagai perlambang perlindungan diri.
Rangkaian Ibadah dan Tradisi
Ibadah Hari Raya Kuningan dilakukan dengan khusyuk, dimulai dari pagi hari hingga siang. Umat Hindu dianjurkan untuk melaksanakan persembahyangan tepat pada pukul 12.00 siang, karena dipercaya sebagai waktu puncak turunnya berkah dewata. Setelah itu, banten kuningan dan perlengkapan upacara lainnya akan dicabut atau diambil kembali.
Perayaan ini juga diwarnai dengan berbagai tradisi lokal di berbagai daerah, seperti di Bali yang identik dengan pemasangan penjor dan hiasan janur. Namun, esensi utama dari Hari Raya Kuningan tetap pada peningkatan spiritual dan introspeksi diri.



