Cucu Pendiri NU Buka Suara soal Perang Iran Vs AS-Israel dan Posisi Indonesia di BoP
Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Abdussalam Shohib, yang akrab disapa Gus Salam, menyoroti situasi geopolitik dunia yang memanas akibat konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan penutupan khataman kitab Ramadan serta doa untuk bangsa Iran di Denanyar, Jombang.
Kecaman atas Serangan Militer dan Krisis Kemanusiaan
Gus Salam menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan juga wujud empati dan solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Iran dan Palestina yang menjadi korban konflik di Timur Tengah. "Kegiatan ini bukan hanya ungkapan empati untuk rakyat Iran dan Palestina, tetapi juga bentuk dukungan atas nama kemanusiaan dan keadilan, terutama kepada sesama saudara muslim di dunia," ujarnya dalam keterangan resmi pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Menurutnya, konflik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir telah menimbulkan banyak korban sipil dan memperburuk situasi kemanusiaan di kawasan Timur Tengah. Dia menyebut serangan militer yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran pada akhir Februari 2026 telah menewaskan banyak korban, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei, beserta keluarganya serta ribuan warga sipil.
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang ini menilai serangan tersebut sebagai tindakan brutal yang tidak hanya melanggar prinsip kemanusiaan, tetapi juga mencederai hukum internasional. Terlebih, serangan dilakukan di tengah upaya mediasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Oman. "Serangan dilakukan saat umat Islam menjalankan ibadah Ramadan dan telah menelan banyak korban sipil, terutama anak-anak. Ini tindakan yang sulit diterima oleh akal sehat," katanya dengan tegas.
Eskalasi Konflik dan Peran Aktor Global
Selain Iran, Gus Salam juga menyoroti kondisi di Palestina, khususnya di wilayah Gaza Strip dan Tepi Barat yang hingga kini masih mengalami kekerasan akibat operasi militer Israel. Menurutnya, tragedi kemanusiaan di kawasan tersebut semakin memperlihatkan krisis keadilan global.
"Eskalasi konflik saat ini berpotensi meluas karena keterlibatan sejumlah negara di Timur Tengah. Hal ini tidak lepas dari keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, dan Kuwait yang menjadi sasaran serangan balasan Iran," terangnya.
Lebih lanjut, konflik juga berpotensi meluas ke negara lain di kawasan seperti Lebanon melalui kelompok Hizbullah serta memicu ketegangan baru di kawasan Kaukasus, termasuk di Azerbaijan. "Konflik global tersebut tidak terlepas dari peran dua tokoh politik dunia, yakni Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai aktor utama di balik berbagai konflik di kawasan Timur Tengah," jelasnya.
Desakan agar Indonesia Keluar dari Board of Peace
Gus Salam menyoroti posisi Indonesia yang saat ini bergabung dalam inisiatif Board of Peace (BoP) yang digagas Donald Trump. Menurutnya, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut perlu dikaji kembali karena dinilai tidak berada dalam kerangka resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Board of Peace bukan lembaga resmi PBB. Kendalinya berada langsung di tangan Donald Trump. Karena itu, Indonesia tidak seharusnya berada dalam posisi yang dapat mengurangi independensi politik luar negeri kita. Indonesia harus keluar dari BoP adalah harga mati," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa sikap politik luar negeri Indonesia seharusnya tetap berpegang pada prinsip yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menolak segala bentuk penjajahan serta menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan. Selain itu, Indonesia juga memiliki komitmen historis melalui Konferensi Asia Afrika 1955 yang menegaskan sikap politik bebas aktif serta penolakan terhadap kolonialisme dan dominasi kekuatan besar dunia.
Menurutnya, upaya penyelesaian konflik global harus dilakukan melalui mekanisme internasional yang sah, terutama melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan melalui inisiatif sepihak yang dikendalikan oleh kekuatan politik tertentu. Ia menegaskan perdamaian dunia hanya dapat terwujud apabila prinsip kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara benar-benar ditegakkan.
"Kita berharap perang segera berakhir, genosida dihentikan, dan kedaulatan negara dikembalikan agar kemanusiaan dan keadilan dapat ditegakkan. Saya mengajak umat Islam sedunia untuk bersatu melawan Amerika dan Zionis Israel," pungkasnya dengan penuh semangat.
