Festival Rujak Uleg kembali digelar di Surabaya, menjadi ajang perayaan identitas kuliner khas kota pahlawan. Acara yang berlangsung di kawasan Taman Bungkul ini menampilkan beragam varian rujak uleg, mulai dari rujak cingur, rujak petis, hingga rujak manis. Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat menyaksikan proses pembuatan rujak secara langsung menggunakan cobek dan ulekan, alat tradisional yang menjadi simbol kuliner Jawa Timur.
Merayakan Tradisi Melalui Rujak
Festival ini tidak sekadar pameran kuliner, tetapi juga upaya melestarikan warisan budaya. Para peserta festival, yang terdiri dari pedagang kaki lima hingga restoran ternama, berlomba menyajikan rujak terbaik. Mereka menggunakan resep turun-temurun yang telah dimodifikasi dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan cita rasa asli.
Peran Cobek dan Sambal
Cobek dan ulekan menjadi pusat perhatian dalam festival ini. Alat ini tidak hanya digunakan untuk mengulek bumbu, tetapi juga menjadi simbol identitas Surabaya. Banyak pengunjung yang mencoba langsung mengulek sambal, merasakan sensasi tradisional yang sulit ditemukan di restoran modern. Sambal yang dihasilkan pun memiliki cita rasa khas karena proses pengulekan manual.
- Rujak uleg dengan sambal petis yang pedas manis.
- Rujak cingur dengan irisan daging dan sayuran segar.
- Rujak manis dengan buah-buahan lokal.
Dampak Festival bagi Ekonomi Lokal
Festival ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Para pedagang melaporkan peningkatan omzet hingga 50 persen selama acara berlangsung. Selain itu, festival ini menarik wisatawan dari berbagai daerah, sehingga turut mempromosikan Surabaya sebagai destinasi wisata kuliner.
Antusiasme Pengunjung
Pengunjung tampak antusias mengikuti berbagai kegiatan, seperti lomba mengulek sambal dan mencicipi rujak gratis. Banyak di antara mereka yang mengaku baru pertama kali merasakan rujak uleg asli Surabaya. Suasana meriah semakin terasa dengan iringan musik tradisional dan pertunjukan seni.
Festival Rujak Uleg di Surabaya ini membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap relevan dan mampu menjadi daya tarik wisata. Dengan melibatkan generasi muda, tradisi ini diharapkan terus lestari dan menjadi kebanggaan Indonesia.



