Musim libur panjang para siswa sekolah hingga mahasiswa sering dimanfaatkan untuk beraktivitas di alam, salah satunya mendaki gunung. Namun, anak muda yang memutuskan naik gunung untuk mengisi liburan harus benar-benar paham bahwa ada risiko yang mengintai dari gunung.
Ancaman Hipotermia di Gunung
Risiko ini bukan hanya hewan buas, tetapi ancaman hipotermia. Pada bulan Juni 2026, tercatat banyak kasus para pendaki tersesat dan kelelahan hingga memicu hipotermia. Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun drastis di bawah normal akibat paparan cuaca dingin yang berkepanjangan.
Menurut data dari Badan SAR Nasional, kasus hipotermia sering terjadi pada pendaki yang tidak siap secara fisik dan perlengkapan. "Pendaki harus membawa pakaian hangat, jas hujan, dan perbekalan yang cukup," ujar Kepala Basarnas setempat.
Kesiapan Fisik dan Perlengkapan
Selain itu, pendaki juga wajib mempersiapkan kondisi fisik yang prima. Mendaki gunung membutuhkan stamina dan aklimatisasi yang baik. Tanpa persiapan matang, risiko kelelahan dan hipotermia meningkat signifikan.
Para ahli merekomendasikan agar pendaki tidak memaksakan diri jika cuaca buruk. "Lebih baik turun atau menunda pendakian daripada mempertaruhkan nyawa," tegas seorang dokter spesialis kedaruratan.
Statistik Kasus
Sepanjang Juni 2026, tercatat sedikitnya 15 kasus pendaki tersesat dan 8 di antaranya mengalami hipotermia. Angka ini meningkat 20% dibandingkan bulan sebelumnya, menurut laporan resmi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Oleh karena itu, penting bagi para pendaki, terutama pemula, untuk selalu mendaki dengan pemandu yang berpengalaman atau bergabung dengan komunitas pendaki yang terorganisir.



