Racikan kunyit dan beras kencur mengalir perlahan dari botol yang dipegang Suyati. Aroma rempah langsung tercium, disusul sensasi hangat jahe yang menjadi ciri khas jamu buatannya. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, perempuan yang telah berjualan sejak 1991 itu masih setia meracik jamu dengan cara tradisional, sebagaimana yang ia lakukan selama puluhan tahun terakhir.
Menolak Blender Demi Rasa Asli
Menurut Suyati, menggunakan blender akan mengubah rasa jamu menjadi tidak segar. Ia menyampaikan hal tersebut dalam Acaraki Jamu Festival 2026 bertema "The Rise of Jamu Culture" yang digelar di Hutan Kota Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 6–7 Juni 2026.
Suyati meracik jamu dari bahan-bahan alami seperti kunyit, jahe, dan kencur yang diolah sendiri setiap hari. Dalam prosesnya, ia masih mempertahankan cara tradisional dengan menumbuk sebagian bahan agar rasa dan kesegarannya tetap terjaga.
Konsistensi Rasa dan Tradisi
Dengan metode tradisional, Suyati memastikan setiap tetes jamu yang dijualnya memiliki kualitas terbaik. Ia percaya bahwa cara ini tidak hanya menjaga cita rasa, tetapi juga mempertahankan warisan budaya leluhur.
Meskipun zaman terus berubah, Suyati tetap teguh pada prinsipnya. Baginya, jamu bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan.



