Sehari Bersama Suku Naulu di Maluku: Hidup Tanpa Listrik, Penuh Tradisi
Sehari Bersama Suku Naulu: Hidup Tanpa Listrik, Penuh Tradisi

Ibu-ibu Kampung Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, tampak lebih sibuk dari biasanya. Mereka berkumpul di salah satu rumah penduduk untuk mengolah daging kurban menjadi hidangan lezat. Daging sapi bukanlah lauk sehari-hari warga setempat. Hampir setiap hari, ikan laut selalu hadir di meja makan mereka. "Nasib warga kepulauan," ujar mereka sambil tersenyum saat ditemui Liputan6.com pada Jumat (29/6/2026).

Sementara itu, anak-anak Kampung Rohua berlatih serius di bawah tenda. Mereka bersiap menampilkan tarian tradisional. Di kampung pesisir ini, perayaan Idul Adha tidak hanya sekadar penyembelihan hewan kurban. Biasanya, mereka mengadakan berbagai perlombaan untuk seluruh warga, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Lomba lari, sepak bola, hingga panjat tebing menjadi bagian dari kemeriahan, tak kalah dengan perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. "Di sini kalau Idul Adha enggak kalah meriah dengan 17-an," kata seorang warga.

Warga Kampung Adat Hidup Tanpa Sekat

Di antara kerumunan warga yang memadati tanah lapang untuk menyaksikan pentas tarian, sekumpulan pria dengan ikat kepala merah mencuri perhatian. Mereka semua mengenakan kain sarung setinggi betis. Dua simbol ini melekat dalam keseharian mereka. Meskipun penampilan mereka berbeda dengan warga pada umumnya, tidak ada sekat di antara mereka. Mereka berbaur dan bersilaturahmi antar tetangga. "Beliau-beliau adalah warga adat dari Suku Naulu," kata Amin, tokoh agama di kampung itu.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Suku Naulu adalah masyarakat adat yang menetap di Pulau Seram, Maluku Tengah. Mereka hidup berbaur dengan masyarakat umum, namun tetap mempertahankan tradisi leluhur secara kuat. Jurnalis Liputan6.com berkesempatan mengunjungi kampung adat Suku Naulu. Permukiman Suku Naulu tersebar di Kampung Rohua, dan jumlahnya lebih banyak daripada penduduk biasa. Tak jarang, mereka juga ditunjuk sebagai kepala dusun. Sebab, sebelum banyak pendatang, konon Suku Naulu sudah lebih dulu ada di sana. "Jadi mereka orang asli di sini. Bahkan mereka mayoritas kalau di kampung kita," ujar Amin.

Selain memiliki simbol tertentu dalam berpakaian, Suku Naulu juga memiliki bahasa yang berbeda dengan warga pada umumnya. Beberapa masyarakat adat bisa berbahasa Indonesia, tetapi kurang lancar karena jarang digunakan. Setiap keluar rumah, pria dewasa Suku Naulu akan mengenakan ikat kepala merah sebagai pembeda. Sementara wanita yang sudah menikah diwajibkan mengenakan sarung setiap hari. "Tabea," kata rombongan yang tiba di kampung adat. Para tokoh adat menyambut baik dan mempersilakan masuk. Ini merupakan suatu kehormatan, karena tidak sembarang orang bisa masuk ke rumah adat. Bahkan, untuk memotret perkampungan adat harus meminta izin terlebih dahulu. "Ikat merah ini tanda berani. Waktu zaman peperangan, ikat itu menjadi simbol identitas. Sudah dewasa baru boleh pakai ikat merah," kata salah satu tokoh saat ditanya makna penutup kepala yang mereka pakai.

Menjaga Tradisi Leluhur, Hidup Tanpa Pencahayaan

Sehari-hari, mereka beraktivitas seperti biasa, mencari makan dengan berkebun dan melaut. Perbedaan hanya pada cara mereka menjalani keseharian. Rumah-rumah Suku Naulu mayoritas masih terbuat dari susunan papan atau bambu, dengan atap dari daun sagu yang tersusun rapi. Rumah-rumah itu gelap sepanjang hari, meskipun daerah sekitarnya sudah dialiri listrik. Mereka memang belum mengenal cahaya. Hunian tanpa cahaya adalah tradisi leluhur yang masih dijaga kuat. "Menurut leluhur sudah seperti itu, meskipun sekarang sudah ada penerangan, sejak dulu dia punya lampu enggak bisa pakai," kata Ketua Adat Suku Naulu di Kampung Rohua. Sebagai gantinya, mereka membuat pencahayaan sendiri secara tradisional dari kayu, yang biasanya dinyalakan hanya pada malam hari.

Suku Naulu di Kampung Rohua terdiri dari lima marga. Di Dusun Rohua, mayoritas suku adat yang menetap bermarga Soumory. Menurut ketua adat, setiap marga memiliki larangan berbeda, terutama dalam hal makanan yang dikonsumsi. Misalnya, ada yang tidak boleh menyantap daging. "Dan itu harus benar-benar dipatuhi pantangannya," ujarnya. Ada tradisi lain yang harus dijalani para wanita dewasa Suku Naulu. Selain wajib mengenakan kain setelah menikah, mereka juga akan dipisahkan dari suaminya ketika baru melahirkan. Mereka akan menghuni rumah khusus di kampung adat untuk ibu baru melahirkan dan bayinya. "Waktunya tiga bulan. Jadi setelah melahirkan langsung masuk ke rumah ini, tidak boleh kembali ke rumahnya."

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Toleransi Antar Warga hingga Berkah Hewan Kurban

Tahun ini, masyarakat adat Suku Naulu merasa bahagia. Mereka ikut menikmati hewan kurban sumbangan warga Kampung Rohua. Total ada tiga hewan kurban yang didistribusikan Dompet Dhuafa untuk warga di sana. Daging yang sudah disembelih diletakkan di anyaman daun kelapa yang disebut Kamboti. "Kami sebut ini hadiah untuk mereka, karena kita bersaudara juga. Sama-sama kami di sini semua merayakan kurban," ujar Amin. Tokoh adat menyambut pemberian itu dengan semringah. Bahkan rombongan Dompet Dhuafa yang melakukan penyerahan hewan kurban diperkenankan masuk ke dalam rumah adat. "Kami anggap ini sebagai rezeki, karena makanan kan rezeki," kata Ketua Adat setempat.

Masyarakat adat merasa sangat tersentuh. Kebaikan hari itu menunjukkan kerukunan antara umat muslim dan masyarakat adat di Kampung Rohua yang terjalin indah. "Terima kasih atas kita semua punya kerukunan umat muslim. Di hari kurban kita bisa dapat bagian," ujarnya tersenyum. Sebelum mengakhiri silaturahmi, ketua adat bergurau bahwa daging kurban yang diberikan ibarat kejutan. Di tengah tangkapan ikan laut yang berkurang akibat cuaca, daging kurban menjadi jawaban persoalan. "Makasih atas kurbannya, kita mau goreng. Kebetulan juga tangkapan ikan sepi," kelakarnya disambut tawa rombongan.