Media sosial baru-baru ini diramaikan oleh perbincangan mengenai rumah bergaya jengki yang disebut memiliki suhu adem dan sejuk. Fenomena ini bermula dari cuitan seorang warganet dengan akun @it****3 pada Selasa, 16 Juni 2026.
Pujian untuk Rumah Jengki
Dalam cuitannya, warganet tersebut mengaku sangat menyukai rumah jengki karena menurutnya memiliki suhu adem dan terasa lebih homie dibandingkan dengan rumah bergaya kolonial. Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan terhadap cuitan warganet lain yang sebelumnya memuji rumah bergaya kolonial Belanda atau Hindia Belanda.
Perbandingan dengan Rumah Kolonial
Rumah jengki, yang populer pada era 1950-an hingga 1960-an di Indonesia, dikenal dengan desainnya yang unik dan ventilasi yang baik. Hal ini membuat suhu di dalam rumah terasa lebih sejuk meskipun tanpa pendingin ruangan. Sebaliknya, rumah kolonial Belanda sering kali memiliki plafon tinggi dan jendela besar, namun menurut beberapa orang kurang memberikan kenyamanan seperti rumah jengki.
Perdebatan ini menunjukkan betapa warganet Indonesia masih peduli dengan arsitektur tradisional dan nilai-nilai lokal. Banyak yang setuju bahwa rumah jengki tidak hanya nyaman tetapi juga memiliki nilai estetika dan sejarah yang kaya.
Fenomena ini pun menjadi bahan diskusi hangat di berbagai platform media sosial, dengan banyak warganet yang ikut berbagi pengalaman dan pendapat mereka tentang rumah jengki. Ada yang mengaku tumbuh di rumah jengki dan merindukan suhu ademnya, sementara yang lain baru mengenal gaya arsitektur ini dan tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut.



