Pergantian Tahun Dal ke Be: Lebih dari Sekadar Tahun Baru
KOMPAS.com - Pergantian Tahun Dal ke Tahun Be dalam penanggalan Jawa pada 1 Suro 1960 di tahun ini tidak sekadar menandai datangnya tahun baru. Di balik pergantian itu tersimpan cara pandang masyarakat Jawa dalam memaknai perjalanan hidup manusia.
Budayawan sekaligus dosen Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS), Tundjung Wahadi Sutirto, menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, waktu tidak dipahami hanya sebagai hitungan hari, bulan, atau tahun. Setiap fase memiliki karakter dan makna yang berkaitan dengan nama yang disandangnya.
Filosofi Waktu dalam Budaya Jawa
Menurut Tundjung, penanggalan Jawa bukanlah sekadar sistem kalender, melainkan sebuah sistem filosofis yang mengajarkan manusia untuk memahami siklus kehidupan. Setiap tahun dalam siklus windu memiliki nama-nama tertentu yang melambangkan sifat dan tantangan yang akan dihadapi. Tahun Dal, misalnya, sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat mendalam dan introspektif, sementara Tahun Be membawa energi baru dan perubahan.
Pergantian ini menjadi momen refleksi bagi masyarakat Jawa untuk mengevaluasi diri dan mempersiapkan diri menghadapi fase kehidupan selanjutnya. Tradisi seperti tirakatan dan doa bersama sering dilakukan pada malam 1 Suro sebagai bentuk penghormatan terhadap siklus waktu.
Makna di Balik Nama Tahun
Tundjung menambahkan bahwa nama-nama tahun dalam penanggalan Jawa memiliki makna simbolis yang dalam. Tahun Dal berasal dari kata "dal" yang berarti dalam, mengisyaratkan periode untuk merenung dan menggali makna hidup. Sementara Tahun Be berasal dari kata "be" yang berarti baru, menandakan awal yang segar dan kesempatan untuk memulai lagi.
Pemahaman ini membantu masyarakat Jawa untuk tidak hanya melihat waktu sebagai sesuatu yang linier, tetapi juga sebagai siklus yang berulang dengan pelajaran yang berbeda. Dengan demikian, setiap pergantian tahun adalah kesempatan untuk belajar dan tumbuh.
Pergantian Tahun Dal ke Tahun Be pada 1 Suro 1960 ini mengingatkan kita bahwa tradisi Jawa kaya akan nilai-nilai filosofis yang relevan hingga saat ini. Lebih dari sekadar perayaan, ini adalah momen untuk merenungkan perjalanan hidup dan menyambut perubahan dengan bijaksana.



