Kunang-Kunang Makin Langka, Tanda Lingkungan Tak Sehat
Kunang-Kunang Makin Langka, Tanda Lingkungan Tak Sehat

Kunang-Kunang Semakin Sulit Ditemukan

Pernahkah Anda melihat kunang-kunang akhir-akhir ini? Atau kapan terakhir kali Anda menyaksikan serangga bersayap yang terkenal karena kemampuannya mengeluarkan cahaya dari tubuhnya? Kehadiran kunang-kunang di alam bebas bukan sekadar nostalgia masa kecil. Ternyata, ada dasar ilmiah yang kuat di balik semakin jarangnya penampakan kunang-kunang.

Peneliti IPB Ungkap Kunang-Kunang sebagai Bioindikator

Menurut Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, kelangkaan kunang-kunang menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas lingkungan. Prof. Upik menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem.

Mengapa Kunang-Kunang Semakin Langka?

Penurunan populasi kunang-kunang disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk hilangnya habitat, polusi cahaya, penggunaan pestisida, dan perubahan iklim. Kunang-kunang membutuhkan lingkungan yang bersih, lembap, dan bebas polusi untuk berkembang biak. Ketika kualitas lingkungan menurun, populasi kunang-kunang pun ikut menurun.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Kelangkaan Kunang-Kunang bagi Ekosistem

Sebagai bioindikator, kelangkaan kunang-kunang menandakan adanya masalah serius dalam ekosistem. Kunang-kunang sensitif terhadap perubahan lingkungan, sehingga ketidakhadiran mereka bisa menjadi peringatan dini akan kerusakan lingkungan yang lebih luas. Upaya konservasi dan perbaikan kualitas lingkungan menjadi kunci untuk mengembalikan populasi kunang-kunang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga