Jejak Kampung Mualaf di Pedalaman Pulau Buru. Di desa berjarak 40 km dari pusat Kota Namlea ini, masyarakat kampung adat hidup berdampingan dengan mayoritas warga muslim lainnya. Suasana Desa Wabloi, Pulau Buru, Maluku, tampak lengang. Tak banyak riuh suara terdengar dari balik deretan rumah yang berjajar. Namun, bukan karena desa itu tak berpenghuni. Sebagian besar warga sedang beraktivitas di dalam rumah. Kebetulan mereka tengah menjalankan puasa Arafah sekaligus mempersiapkan penyembelihan hewan kurban untuk menyambut Iduladha keesokan harinya.
Persiapan Kurban di Kampung Mualaf
"Para ibu saya minta tolong buat sedikit-sedikit makanan buat kita punya kurban besok," kata Rosmalia ramah saat menyambut di depan rumahnya yang baru sebagian berdinding beton. Rosmalia antusias menceritakan persiapan kurban di kampungnya. Dua ekor sapi berukuran sedang sudah diikat di dekat pepohonan di samping rumah. Begitu pula terpal untuk tenda petugas penyembelihan yang telah disiapkan. Menurutnya, penyembelihan akan dilakukan setelah salat Iduladha. "Selepas zuhur baru kami dirikan tenda," katanya.
Sejarah Kampung Mualaf
Rosmalia menuturkan, aktivitas berkurban di Desa Wabloi sebenarnya terhitung baru. Puluhan kepala keluarga di sana baru bisa menikmati daging kurban dalam lima tahun terakhir. Hal itu bukan tanpa sebab. Sebagai desa adat, Wabloi tidak sepenuhnya dihuni warga Muslim. Di sana juga menetap masyarakat penganut agama Hindu. Kondisi tersebut membuat penyaluran hewan maupun daging kurban belum menjangkau wilayah yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Namlea, Pulau Buru. "Di sini kampung tertua di gunung masih animisme," timpal Ustaz Fauzan, suami Rosmalia. Pasangan suami istri ini memilih Desa Wabloi sebagai tempat menghabiskan masa tua. Sembari itu, Ustaz Fauzan melakukan syiar dakwah dari kampung ke kampung. Tak disangka, silaturahmi pria asal Mojokerto itu diterima masyarakat yang sebelumnya menganut kepercayaan animisme. Dari obrolan sehari-hari, mereka semakin tertarik mengenal Islam hingga satu per satu mengucapkan syahadat dan menjadi mualaf.
Dukungan dari Dompet Dhuafa
Di kalangan masyarakat pesantren Jawa Timur, Ustaz Fauzan cukup dikenal. Mengetahui Fauzan tinggal di pedalaman Pulau Buru, seorang temannya di Jakarta kemudian menitipkan seekor sapi kurban untuk 40 kepala keluarga di Wabloi. Momen itu menjadi kali pertama warga melaksanakan kurban pada 2022. "Kemudian 2023 ada tiga ekor dipotong di sini. Daging dibagikan ke kanan-kiri kampung, termasuk kepada yang bukan Muslim. Kemudian 2024 ada empat ekor," ujarnya. Perkembangan masyarakat mualaf di Desa Wabloi juga sampai ke telinga Dompet Dhuafa. Perjuangan Ustaz Fauzan dalam berdakwah membuat lembaga tersebut terkesan. Kampung ini kemudian mulai menerima bantuan hewan kurban sejak 2025. Tahun lalu, jumlah bantuan dari Dompet Dhuafa mencapai tiga ekor sapi. Tahun ini, warga kembali menerima dua ekor sapi. Kebahagiaan pun menyelimuti mereka. "Karena memang seumur hidup baru pertama kali merasakan daging kurban pada 2022. Karena ini kampung adat, jadi memang tidak ada yang menyalurkan kurban ke sini," ujarnya.
Masjid Pertama di Kampung Mualaf
Meski penduduknya mayoritas Muslim, Desa Wabloi dahulu tidak memiliki rumah ibadah. Jika azan berkumandang, warga harus mendaki ke kampung seberang untuk salat berjemaah di musala. Di sana memang menetap para transmigran yang mayoritas beragama Islam. Suatu hari, Ustaz Fauzan diundang ke Namlea untuk mewakili kampung pedalaman di Maluku. Pemerintah setempat penasaran karena jumlah penganut agama Islam di Pulau Buru meningkat cukup signifikan. Belakangan diketahui, ada peran Ustaz Fauzan di balik perkembangan tersebut. "Akhirnya ditelusuri dan saya diundang ke sana untuk pemaparan. Pimpinan lembaga zakat, mulai dari Dompet Dhuafa sampai pembina zakat nasional, menemui saya. Kemudian mereka ingin terlibat di Pulau Buru," katanya. Perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Setelah pertemuan tersebut, Ustaz Fauzan mendapat kabar menggembirakan. Kampungnya akan dibangunkan masjid oleh Dompet Dhuafa. Ia dan warga Wabloi senang bukan kepalang. Saking gembiranya, ia rela mewakafkan sebidang tanah di samping rumahnya untuk pembangunan masjid. Ia semakin terharu ketika seorang tokoh adat juga mewakafkan tanahnya guna menambah luas area masjid. "Alhamdulillah, sekarang kami tidak perlu jauh-jauh lagi untuk beribadah," ujar Fauzan.
Toleransi yang Indah
Wabloi memang dikenal sebagai kampung mualaf. Namun, toleransi tumbuh dengan indah di sana. Perayaan kurban menjadi milik seluruh warga. Bahkan, keberadaan masjid justru mempererat sikap saling menghormati antarsesama warga. Hewan kurban yang dibagikan tidak hanya untuk warga Muslim, tetapi juga untuk tetangga yang beragama Hindu dan penganut animisme. Hal ini menunjukkan bahwa kedamaian dan kebersamaan dapat tercipta di tengah perbedaan keyakinan.



