Menteri Sosial Republik Indonesia, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyatakan dukungannya terhadap pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai pahlawan nasional. Pernyataan ini disampaikan Gus Ipul saat menghadiri Seminar Nasional STA di Universitas Nasional, Jakarta Selatan, pada Selasa (29/6/2026).
Warisan Terbesar STA: Membangun Cara Berpikir Bangsa
Dalam sambutannya, Gus Ipul mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Universitas Nasional, khususnya Fakultas Bahasa dan Sastra, yang telah menyelenggarakan forum tersebut. "Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Universitas Nasional, khususnya Fakultas Bahasa dan Sastra, yang telah mengisi forum ini sebagai ikhtiar akademik dan kebangsaan untuk menelaah kontribusi Sutan Takdir Alisjahbana sekaligus mendukung pengusulan sebagai pahlawan nasional," kata Gus Ipul.
Gus Ipul menjelaskan bahwa Sutan Takdir Alisjahbana dikenal sebagai sastrawan, ahli bahasa, pemikir kebudayaan, pendidik, dan pendiri Universitas Nasional. Namun, menurutnya, jika seluruh perjalanan hidup STA dipandang sebagai satu kesatuan, warisan terbesar yang ditinggalkan bukan sekadar karya-karyanya, melainkan upaya membangun cara bangsa Indonesia berpikir. STA turut menata dan mengembangkan bahasa Indonesia agar tidak sekadar menjadi bahasa pergaulan, melainkan juga tumbuh sebagai bahasa yang mampu menjadi medium berpikir, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban.
Pahlawan Bukan Hanya yang Angkat Senjata
Bagi Gus Ipul, sosok pahlawan yang berjuang bukan hanya orang yang mengangkat senjata. Sebab, ada pula pahlawan yang berjuang dengan pena, buku, ruang kelas, dan keberanian menyampaikan gagasan. "Keduanya sama-sama penting sebab setelah sebuah bangsa merdeka, masih ada pertanyaan besar, bangsa seperti apa yang hendak kita bangun dan bagaimana rakyat dari berbagai daerah dapat hidup sebagai satu bangsa? Pertanyaan itulah yang banyak dipikirkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana," ungkap dia.
Gus Ipul menegaskan, perjuangan dalam pengembangan bahasa menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Hal ini tidak terlepas dari bahasa sebagai jembatan komunikasi. Dengan bahasa, seseorang dapat menyampaikan gagasan, menjelaskan kesulitan, meminta pertolongan, dan menuntut keadilan. Dalam menjalankan tugas di Kementerian Sosial, Gus Ipul menilai pelajaran tersebut terasa sangat relevan. Masyarakat yang membutuhkan pelayanan berhak memperoleh informasi yang jelas dan mudah dipahami agar mengetahui hak-haknya sebagai warga negara.
Relevansi Warisan Kebahasaan STA bagi Program Pemerintah
Ia menyinggung mengenai program pemerintah. Menurutnya, sebaik apa pun tujuannya, tidak akan memberi manfaat optimal jika disampaikan dengan bahasa yang rumit. "Jangan sampai program pemerintah sebenarnya baik, tapi bahasanya terlalu rumit bagi masyarakat, sehingga negara hadir dengan berbagai prosedur namun masyarakat justru merasa semakin jauh," katanya. Oleh karena itu, bahasa merupakan wajah pertama negara ketika berjumpa dengan rakyatnya. Bahasa yang jelas dan menghormati masyarakat bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga wujud kehadiran negara. "Di sinilah warisan kebahasaan STA tetap relevan. Bahasa bukan hanya soal tata kalimat, tetapi juga soal keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia," tegasnya.



