Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mulai menghidupkan kembali permainan tradisional anak melalui Festival Dolanan Anak. Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.
Program Kolaborasi Budaya dan Kurikulum Ekstrakurikuler
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang Bambang Suryantoro Sudibyo mengatakan, festival tersebut menjadi bagian dari program Kolaborasi Budaya yang dikembangkan melalui kurikulum ekstrakurikuler dolanan anak di sekolah dasar. "Program ini merupakan implementasi inovasi Ketan Budaya. Kami melihat anak-anak saat ini lebih mengenal permainan modern dan budaya luar dibandingkan dolanan tradisional yang menjadi warisan leluhur," kata Bambang di Batang, Rabu (1/7/2026).
Mengurangi Ketergantungan pada Gawai
Festival ini diharapkan dapat mengalihkan perhatian anak dari gawai dan memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal. Melalui permainan seperti gobak sodor, engklek, dan egrang, anak-anak belajar tentang kerjasama, kejujuran, dan sportivitas. Pemerintah daerah berencana untuk mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam kegiatan ekstrakurikuler di seluruh sekolah dasar di Batang.
Dampak Positif bagi Pendidikan Karakter
Bambang menambahkan bahwa permainan tradisional mengandung filosofi yang mendalam dan dapat membentuk karakter anak. "Dolanan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan," ujarnya. Dengan demikian, festival ini menjadi langkah strategis dalam melestarikan budaya sekaligus menjawab tantangan era digital.



