Tokoh adat Lampung Pepadun Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, angkat bicara terkait prosesi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menginjak kepala kerbau saat menerima gelar adat di Lampung, Minggu (28/6/2026). Mawardi meminta masyarakat tidak mengaitkan prosesi adat tersebut dengan kepentingan politik.
Makna Filosofis Tradisi Begawi Cakak Pepadun
Mawardi menjelaskan, prosesi menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi yang telah diwariskan turun-temurun. Ritual itu memiliki makna filosofis sebagai simbol menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri, seperti sifat sombong, iri dengki, tamak, dan sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik," kata Mawardi dilansir detikSumbagsel, Senin (29/6/2026).
Bukan Penghinaan terhadap Hewan
Menurut Mawardi, tradisi meletakkan jari kaki di atas kepala kerbau bukanlah bentuk penghinaan terhadap hewan, melainkan simbol adat yang telah dijalankan secara turun-temurun dalam prosesi pemberian gelar. Mawardi juga menepis anggapan yang mengaitkan dominasi warna merah di lokasi prosesi dengan kelompok politik tertentu. Menurutnya, warna tersebut memang menjadi bagian dari ornamen di Kedatun Keagungan.
"Memang di Kedatun Keagungan karpetnya merah semua. Lihat di tangga, di jalan menuju museum, semuanya karpet merah. Jadi bukan ditujukan kepada kelompok tertentu," tegasnya.
Penjelasan Tambahan
Prosesi adat ini menjadi perhatian publik setelah foto Jokowi menginjak kepala kerbau beredar luas. Mawardi berharap masyarakat memahami konteks budaya dan tidak mencampuradukkan dengan isu politik. Ia menegaskan bahwa tradisi Begawi Cakak Pepadun adalah warisan leluhur yang sarat makna spiritual dan sosial.



