Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon melakukan kunjungan kerja ke Vihara Mendut di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk meninjau kesiapan perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak yang akan digelar pada Minggu, 31 Mei 2026. Kunjungan ini didampingi oleh Bhante Pannavaro Mahathera, tokoh agama Buddha setempat.
Mempererat Kebersamaan dan Melestarikan Warisan Budaya
Kunjungan ke vihara yang berada dalam satu kawasan dengan Candi Mendut ini bertujuan untuk mempererat kebersamaan sekaligus meneguhkan komitmen dalam pelestarian warisan budaya dan spiritual bangsa. Vihara Mendut sendiri merupakan tempat ibadah umat Buddha Mahayana yang memiliki nilai historis tinggi.
Vihara Mendut Berusia 50 Tahun
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengungkapkan bahwa Vihara Mendut kini genap berusia 50 tahun. Bangunan peribadatan ini dibangun pada tahun 1976 dan pada tahun 2026 tepat setengah abad. "Vihara ini dibangun pada tahun 1976, dan pada 2026 ini tepat berusia 50 tahun. Saya mengapresiasi peran Bhante Pannavaro yang sejak awal telah menjadi pemimpin umat di vihara ini, sekaligus menyaksikan perkembangan dan menjaga nilai-nilai luhur yang ada," ujar Fadli Zon dalam keterangannya, Minggu, 3 Mei 2026.
Diskusi tentang Ajaran Buddha dan Simbol Situs Suci
Selain meninjau kesiapan, Fadli Zon juga berdiskusi dengan Bhante Pannavaro mengenai nilai-nilai ajaran Buddha dan simbol-simbol pada situs suci, termasuk Chattra yang memiliki makna penting bagi umat Buddha sebagai bentuk penghormatan, pelindungan, dan amalan tertinggi. "Setiap situs agama Buddha memiliki Chattra, mahkota, atau payung. Di relief Candi Borobudur, jumlahnya sangat banyak. Ini selaras dengan aspirasi kita menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang harus direalisasikan, tentu dengan dukungan organisasi-organisasi Buddha dan masyarakat luas," jelasnya.
Makna Waisak bagi Kebudayaan Indonesia
Lebih lanjut, Fadli Zon menegaskan bahwa peringatan Tri Suci Waisak bukan hanya menjadi hari besar keagamaan, tetapi juga memiliki makna kebudayaan yang luas bagi bangsa Indonesia. "Waisak menjadi momentum untuk merenungkan kembali makna ajaran Dharma sebagai pedoman hidup menuju kebijaksanaan dan kasih sayang, sekaligus memperteguh toleransi, persatuan, serta kedamaian dalam masyarakat majemuk. Ini bukan hanya perayaan umat Buddha, tetapi juga bagian dari perjalanan budaya dan peradaban bangsa," tuturnya.
Dukungan Pejabat dan Komitmen Kemenbud
Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon didampingi sejumlah pejabat, di antaranya Direktur Utama Taman Wisata Borobudur Febrina Intan, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Sjamsul Hadi, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Esti Nurjadin, dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya dalam perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan sebagai bagian penting dari pengelolaan living heritage yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.



