Barongsai di Indonesia: Lebih dari Sekadar Tarian, Penyatu di Tengah Keberagaman
Barongsai telah lama menjadi bagian integral dari lanskap budaya Indonesia. Seiring waktu, jejaknya tidak hanya tertanam sebagai ritual budaya masyarakat Tionghoa, tetapi juga tumbuh sebagai ruang perjumpaan lintas identitas, bahkan menjadi ajang prestasi yang diakui secara nasional dan internasional.
Makna Spiritual dan Transformasi Budaya
Budayawan sekaligus peneliti kajian ketionghoaan, Alexander Raymon atau Alex Cheung, menjelaskan bahwa barongsai sejatinya bukan hanya seni pertunjukan. Di dalamnya, tersimpan makna spiritual yang dalam. "Barongsai itu mengekspresikan semangat, harapan, optimisme, keberanian, dan persatuan," kata Alex. Singa, sebagai simbol utama dalam barongsai, dipercaya memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan, kemakmuran, kebahagiaan, serta kedamaian.
Di Indonesia, barongsai dikenal seiring hadirnya etnis Tionghoa di Nusantara. Dalam bahasa Mandarin disebut wǔ shī, sementara di beberapa daerah di Jawa dikenal dengan sebutan samsi atau siamsi dalam dialek Hokkian, yang berarti tarian singa. Namun kini, barongsai tidak lagi berdiri eksklusif sebagai milik satu kelompok. Sejak era reformasi, pertunjukan barongsai tampil bebas di ruang publik, dari perayaan Imlek dan Cap Go Meh, hingga festival budaya, acara institusi, bahkan hajatan pribadi.
Sentuhan Lokal dan Inklusivitas
Barongsai pun bertransformasi dengan sentuhan lokal yang mulai terasa, seperti barongsai Jawa, iringan musik pop, hingga kolaborasi dengan tarian modern. "Ini bukan membuat identitas Tionghoa memudar. Justru memperkaya seni barongsai dengan kekhasan setiap daerah di Indonesia," ujar Alex. Perkumpulan Tionghoa seperti Hoo Hap Hwee, Hokkian Hwee Koan, hingga Kwong Siew Wai Kuan berperan besar menjaga keberlangsungan seni ini, sementara komunitas barongsai modern bermunculan dan membuka ruang inklusif bagi siapa saja.
Salah satu contohnya adalah Yayasan Barongsai Kong Ha Hong, komunitas yang telah lebih dari dua dekade mengembangkan barongsai di Indonesia dengan prestasi lima kali menjuarai kompetisi dunia. Ketua yayasan, Ronald Sjarif, menegaskan bahwa barongsai adalah ruang terbuka tanpa sekat. "Kita enggak saring-menyaring. Siapa saja boleh bergabung. Tidak membedakan suku, agama, dan ras," ujarnya. Usia minimal peserta sekitar delapan tahun, dan latihan diberikan tanpa pungutan biaya, menarik minat masyarakat yang sering muncul secara spontan setelah menyaksikan atraksi di mal atau ruang publik.
Dua Wajah Barongsai: Budaya dan Olahraga
Di balik gemulai geraknya, barongsai menuntut kekuatan fisik, keseimbangan, dan disiplin tinggi. Dua penari harus bergerak seirama di bawah kostum singa, mengikuti irama tambur dan simbal. Pelatih Barongsai Kong Ha Hong, Andri Wijaya, menjelaskan bahwa barongsai kini memiliki dua wajah: sebagai budaya dan sebagai olahraga. "Yang satu mempertahankan tradisi, yang satu lagi fokus ke teknik dan prestasi," katanya.
Sebagai budaya, barongsai tetap menjalankan ritual seperti berdoa, mendatangi vihara, dan prosesi simbolik ambil sayur. Sementara sebagai hiburan, barongsai tampil lebih bebas dengan koreografi yang disusun dan musik yang dipilih sesuai selera penonton. Sejak 2013, barongsai juga resmi diakui sebagai cabang olahraga dan telah dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak 2016. "Sebagai olahraga, barongsai punya teknik yang makin kompleks. Tingkat kesulitannya terus naik," ujar Andri. Kini, barongsai kerap dipadukan dengan seni bela diri seperti kungfu atau wushu, menciptakan gerak yang lebih dinamis dan estetis.
Andri berharap pengakuan sebagai olahraga bisa menarik lebih banyak generasi muda untuk terlibat. "Kita berharap tumbuh lagi atlet-atlet barongsai muda dari Indonesia," katanya. Dengan demikian, barongsai terus berkembang sebagai simbol pemersatu yang menghubungkan tradisi, inovasi, dan prestasi dalam keberagaman masyarakat Indonesia.



