Fenomena anak-anak tampil di panggung digital semakin marak dalam beberapa tahun terakhir. Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi panggung bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri, mulai dari bakat menyanyi, menari, hingga konten lucu sehari-hari. Namun, di balik gemerlapnya dunia digital, terdapat garis tipis antara ekspresi dan eksploitasi.
Antara Kreativitas dan Risiko
Banyak orang tua yang bangga melihat anak mereka tampil percaya diri di depan kamera. Konten anak-anak seringkali mendapat respons positif dari warganet, bahkan tidak sedikit yang menjadi viral. Namun, psikolog anak dr. Anita Sari, Sp.A., mengingatkan bahwa keterlibatan anak di media sosial harus diawasi dengan ketat. "Anak-anak belum memiliki kemampuan untuk memahami konsekuensi jangka panjang dari konten yang mereka buat. Orang tua harus menjadi filter utama," ujarnya dalam wawancara dengan Kompas.com.
Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kasus eksploitasi anak di ranah digital meningkat 20% pada tahun 2025. Bentuk eksploitasi bisa berupa konten yang tidak pantas, komentar negatif, hingga penyalahgunaan data pribadi. Hal ini menjadi perhatian serius bagi para pegiat perlindungan anak.
Peran Orang Tua dalam Mendampingi
Orang tua memiliki peran krusial dalam memastikan keamanan anak di dunia digital. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Membatasi waktu layar sesuai rekomendasi American Academy of Pediatrics, yaitu tidak lebih dari 1-2 jam per hari untuk anak usia 2-5 tahun.
- Memilih konten yang mendidik dan sesuai usia anak.
- Mengawasi interaksi anak dengan pengguna lain, termasuk mengaktifkan fitur keamanan privasi.
- Mengedukasi anak tentang bahaya berbagi informasi pribadi secara online.
Selain itu, penting bagi orang tua untuk tidak memaksakan anak tampil di media sosial jika anak tidak nyaman. "Jangan sampai anak menjadi korban popularitas orang tua. Ekspresi harus datang dari diri anak sendiri, bukan karena tekanan," tegas Anita.
Regulasi dan Kesadaran Masyarakat
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital telah mengeluarkan pedoman konten anak di media sosial. Setiap platform diwajibkan menyediakan fitur keamanan khusus untuk anak. Namun, kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan. Warganet diharapkan lebih bijak dalam mengonsumsi dan menyebarkan konten anak, serta tidak memberikan komentar yang tidak pantas.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa dunia digital adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, anak bisa mengembangkan bakat dan kepercayaan diri. Di sisi lain, risiko eksploitasi mengintai. Dengan pendampingan yang tepat, orang tua dapat memastikan anak tetap aman dan bahagia di panggung digital.



