Dua Dekade Inggit Garnasih Mengantar Soekarno ke Gerbang Perjuangan
Dua Dekade Inggit Garnasih Mengantar Soekarno ke Gerbang

Dua Dekade Inggit Mengantar Soekarno ke Gerbang Perjuangan

Jauh sebelum dunia mengagumi pidato Bung Karno, ada jemari Inggit yang lecet meracik tembakau demi memastikan Sang Proklamator punya ongkos untuk berjuang. Rumah Inggit Garnasih di Bandung kini menjadi museum, saksi bisu perjuangan keduanya.

Rumah Sejarah di Bandung

Kediaman Inggit Garnasih di Jalan Inggit Garnasih Nomor 8, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, masih berdiri kokoh hingga hari ini. Dinding berwarna putih dan cokelat, jendela-jendela kayu tua, serta tata ruang yang sederhana membawa pengunjung kembali ke masa ketika sejarah bangsa ditulis dari ruang-ruang yang tampak biasa. Kini rumah bercorak kolonial Belanda tersebut dibuka untuk umum dan difungsikan sebagai museum. Di dalamnya tersimpan foto-foto Inggit Garnasih, dokumentasi kebersamaannya dengan Soekarno, serta kisah perjalanan hidup perempuan yang menjadi salah satu sosok paling penting dalam perjalanan sang Proklamator.

Benda Bersejarah dan Perjuangan Ekonomi

Salah satu benda yang paling menarik perhatian pengunjung adalah sebuah batu pipisan yang tersimpan di salah satu sudut rumah. Benda sederhana itu menjadi saksi perjuangan Inggit menghidupi rumah tangganya. Dengan batu pipisan tersebut, Inggit meracik jamu dan membuat bedak. Dia juga berjualan tembakau dan menjahit pakaian dalam perempuan demi membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menopang perjuangan politik Soekarno di masa-masa sulit. Meski usianya sudah lebih dari seabad, kondisi rumah tetap terawat. Renovasi terakhir dilakukan sekitar tiga tahun lalu akibat beberapa titik kebocoran pada atap. "Kalau di sini jarang renovasi, terakhir itu tiga tahun lalu. Waktu itu direnovasi karena ada rembes dari gentengnya yang bocor, makanya diganti. Ada beberapa titik yang bocor, di kamar dan ruang utama," ujar pengelola museum, Jajang. Bekas rembesan air masih tampak di beberapa bagian plafon. Namun bangunan utama, koleksi foto, hingga perabot yang tersimpan di dalam rumah tetap terjaga dengan baik. Sayangnya, jumlah pengunjung belakangan tidak seramai musim liburan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Awal Kisah Cinta

Sebagai bangunan bersejarah, rumah itu menyimpan kisah yang jauh melampaui bangunan tua dan benda-benda di dalamnya. Dari rumah inilah salah satu kisah cinta paling terkenal dalam sejarah Indonesia bermula. Pada 1921, Oemar Said Tjokroaminoto menitipkan keponakannya yang bernama Kusno Sosrodihardjo atau Soekarno kepada pasangan Haji Sanusi dan Inggit Garnasih. Saat itu Soekarno datang ke Bandung untuk menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat pertama kali bertemu, Inggit melihat sosok pemuda yang ramah dan mudah bergaul. Dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH, Inggit mengenang kesan pertamanya terhadap pemuda berusia 20-an tahun itu. "Sejak bertemu dan bersalaman, pemuda itu sudah menyenangkan. Ia gampang bergaul dan mau menerima apa yang aku hidangkan dengan roman muka yang menggembirakan. Aku persilakan dia masuk ke kamar depan yang telah kubereskan," ucap Inggit.

Kala itu, Inggit merupakan istri Haji Sanusi, seorang saudagar sekaligus aktivis Sarekat Islam di Bandung. Sementara Soekarno sebenarnya masih berstatus suami Utari, putri sulung HOS Tjokroaminoto. Namun pernikahan muda itu tak berjalan sebagaimana mestinya. Soekarno dan Utari lebih merasa sebagai kakak dan adik daripada pasangan suami istri. Utari sempat tinggal bersama Soekarno di rumah Inggit dan Sanusi. Namun kemudian ia kembali ke Surabaya. Sejak saat itu, Soekarno semakin banyak menghabiskan waktu di rumah tersebut. Hari demi hari, hubungan antara Inggit dan Soekarno tumbuh tanpa direncanakan. Inggit yang kerap menyajikan kopi dan menyiapkan kebutuhan sehari-hari mulai merasakan tatapan berbeda dari pemuda itu. Di sisi lain, kehidupan rumah tangganya dengan Haji Sanusi tidak lagi hangat seperti dulu. Sanusi sering berada di luar rumah hingga larut malam, sementara Inggit menjalani hari-harinya dalam kesepian.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Jimat Keberuntungan Bung Karno

Dalam autobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengaku terpesona sejak pertama kali melihat Inggit. "Keberuntungan utama itu sedang berdiri di pintu masuk dalam suasana setengah gelap dibingkai lingkaran cahaya dari belakang. Dia memiliki bentuk tubuh yang kecil, dengan sekuntum bunga merah menyolok di sanggulnya dan sebuah senyuman yang mempesona," kenang Soekarno. Perasaan yang semula dipendam akhirnya menemukan jalannya. Pada suatu malam, di rumah yang kini menjadi museum itu, Soekarno menyatakan cintanya kepada Inggit. Perempuan yang usianya sekitar 13 tahun lebih tua itu sempat menahan gejolak perasaannya. Namun peristiwa serupa kembali terjadi pada malam berikutnya. Kali ini, Soekarno tidak hanya menyatakan cinta. Ia meminta Inggit menjadi istrinya. Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno menuliskan percakapan yang menjadi titik balik hidup mereka. "Apakah kita tidak menghadapi kesulitan?" tanya Soekarno. "Tidak, aku akan bicara dengan Sanusi besok," jawab Inggit. Percakapan singkat itu menjadi awal babak baru dalam kehidupan keduanya. Hubungan mereka berjalan tanpa pertikaian besar. Sanusi menerima keputusan tersebut, dan pernikahan Soekarno dengan Inggit kemudian dilangsungkan di rumah orang tua Inggit di Bandung.

Bagi Soekarno, Inggit bukan sekadar istri. Ia menemukan sosok yang selama ini dicari, seorang perempuan yang mampu menjadi ibu, sahabat, sekaligus pasangan hidup. "Aku ingin teman hidupku bertindak sebagai ibuku. Kalau aku pilek, aku ingin dipijatnya. Kalau aku lapar, aku ingin menyantap makanan yang dia masak sendiri. Kalau bajuku koyak, aku ingin isteriku menambalnya," kata Soekarno. Dan itulah yang diberikan Inggit selama hampir dua dekade. Ia mendampingi Soekarno saat masih menjadi mahasiswa, ketika membangun gerakan politik, saat dipenjara pemerintah kolonial, hingga menjalani masa pengasingan. Di balik pidato-pidato besar dan gagasan kemerdekaan yang mengguncang Hindia Belanda, ada perempuan yang menjual bedak, menjahit pakaian, dan meracik jamu untuk memastikan perjuangan itu tetap hidup. "Ia memerlukan hati yang lembut dan dorongan yang besar dan mulia, terutama yang keluar dari hati seorang wanita. Itu semua aku camkan dalam hati," tulis Inggit dalam Kuantar ke Gerbang.

Akhir Perjalanan Cinta

Namun perjalanan cinta mereka tidak berakhir bahagia. Saat pengasingan di Bengkulu, Soekarno jatuh hati kepada Fatmawati dan menginginkan keturunan. Inggit yang telah berusia lebih dari 50 tahun menolak dimadu. Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun mendampingi perjuangan Soekarno, ia memilih berpisah dan kembali ke Bandung. Kisah cinta yang dimulai di sebuah rumah sederhana di Bandung berakhir dengan kepedihan, namun jejak perjuangan Inggit tetap abadi dalam sejarah bangsa.