Sejumlah Pesantren dan PCNU Berebut Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35
Pesantren dan PCNU Berebut Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar Muktamar NU ke-35 pada Agustus 2026 mendatang. Namun, hingga saat ini lokasi pelaksanaan acara tersebut belum ditentukan. Sejumlah pihak mulai mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah gelaran organisasi Islam terbesar di Indonesia ini, mulai dari pondok pesantren hingga pengurus NU di daerah.

Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto Siap Jadi Tuan Rumah

Salah satu yang mengajukan diri adalah Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Pengasuh ponpes tersebut, KH Asep Saifuddin Chalim, menyatakan pihaknya siap mendukung dan menyukseskan pelaksanaan forum tertinggi NU. "Kami berharap diberikan kesempatan menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Amanatul Ummah siap secara lahir maupun batin untuk ikut menyukseskan agenda besar jam'iyah Nahdlatul Ulama," kata Kiai Asep pada Senin, 25 Mei 2026.

Menurut Kiai Asep, Muktamar NU bukan sekadar agenda organisatoris, melainkan momentum besar untuk memperkuat persatuan umat, kaderisasi ulama, dan arah peradaban Islam Nusantara. "Muktamar adalah forum strategis yang menentukan arah khidmah Nahdlatul Ulama ke depan. Karena itu, kami ingin ikut berkhidmah dengan memberikan fasilitas terbaik dan pelayanan terbaik untuk warga Nahdliyin," ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ia menilai lokasi Pacet Mojokerto sangat representatif karena memiliki suasana pesantren yang kondusif serta akses yang mudah dijangkau dari berbagai daerah di Pulau Jawa. "Lingkungan pesantren memberikan suasana spiritual dan kekhidmatan yang sesuai dengan tradisi NU. Selain itu, Mojokerto juga berada di kawasan strategis dan mudah diakses," tambahnya.

Kompleks Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Kecamatan Pacet memiliki berbagai fasilitas penunjang yang memadai untuk kegiatan berskala nasional, seperti Masjid Raya Abdul Chalim tiga lantai, guest house, student center berkapasitas sekitar 4.000 peserta, klinik tiga lantai, area parkir luas, dan gedung pendidikan bertingkat. Selain kompleks induk, fasilitas juga ditopang oleh kompleks MBI Amanatul Ummah, MTs dan MA Hikmatul Amanah, serta Universitas KH Abdul Chalim yang memiliki gedung perkuliahan, wisma, apartemen mahasiswa, masjid, guest house, dan gedung entrepreneurship.

Kiai Asep berharap Muktamar ke-35 NU dapat menjadi momentum memperkuat persaudaraan, konsolidasi organisasi, serta penguatan peran NU dalam menjaga keutuhan bangsa. "Kami ingin Muktamar NU menjadi ruang persatuan, ruang musyawarah para ulama dan kader terbaik NU untuk menjaga Indonesia dan merawat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah," ujarnya.

PCNU Cirebon Raya Juga Ajukan Diri

Tidak hanya Mojokerto, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon secara resmi melayangkan surat permohonan kepada Ketua Panitia Muktamar NU ke-35, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), agar kawasan Cirebon Raya ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan. Surat tersebut disampaikan sebagai respons atas aspirasi besar kalangan Nahdliyin di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Aziz Hakim Syaerozi, mengatakan pengajuan tersebut lahir setelah musyawarah gabungan berbasis kawasan yang melibatkan unsur pengurus PCNU se-Cirebon Raya, meliputi Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, dan Kabupaten Indramayu. "Kami berkesimpulan tegas untuk mengajukan kawasan Cirebon Raya sebagai tempat Muktamar NU ke-35. Ini merupakan aspirasi nahdliyin, seluruh pesantren dan dari berbagai kalangan, baik yang berada di Cirebon maupun di luar daerah," ujar KH Aziz.

Menurutnya, Cirebon memiliki banyak faktor pendukung yang layak menjadi tuan rumah, mulai dari nilai historis, kekuatan pesantren, hingga kesiapan infrastruktur. Cirebon memiliki hubungan historis yang kuat dengan NU, di mana salah satu pendiri dan tokoh besar NU, KH M Abbas Abdul Jamil dan KH Abdullah Abbas, berasal dari wilayah ini. Selain itu, Cirebon dikenal sebagai pusat pesantren tua seperti Buntet Pesantren, Pesantren Babakan, Pesantren Benda, dan Pesantren Gedongan yang usianya lebih dari satu abad.

Dari sisi fasilitas, kawasan Cirebon Raya memiliki lebih dari 30 hotel berbintang tiga hingga lima, dengan delapan hotel besar memiliki total kapasitas lebih dari 1.900 kamar dan ballroom yang mampu menampung sekitar 6.000 orang. Aksesibilitas juga menjadi pertimbangan, karena Cirebon dapat dijangkau melalui berbagai moda transportasi, termasuk kendaraan pribadi, bus, kereta api, dan bandara yang beroperasi 24 jam.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

KH Aziz berharap surat permohonan tersebut menjadi pertimbangan serius bagi panitia pusat. "Semoga permohonan ini bisa menjadi pertimbangan penting bagi panitia dan dukungan semua masyayikh dan pengurus NU se-Indonesia dalam memutuskan tempat pelaksanaan Muktamar NU ke-35," katanya.

Forum Rais Syuriyah PCNU se-Jatim Usulkan Lirboyo

Sebelumnya, Forum Rais Syuriyah PCNU se-Jawa Timur mengusulkan agar Muktamar ke-35 NU diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. "Forum mengusulkan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo yang memiliki sejarah panjang dalam khidmah keilmuan, kaderisasi ulama, serta pengabdian kepada NU," kata Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Abdul Muid Shohib, Jumat, 8 Mei 2026.

Forum juga meminta PBNU segera melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas), Konferensi Besar (Konbes), dan Muktamar ke-35 secara baik, bersih, transparan, menjunjung tinggi etika dan kepatutan, serta berpedoman pada AD/ART. Selain itu, forum meminta PBNU melibatkan para sesepuh dari unsur Mustasyar PBNU dalam pengambilan keputusan strategis.

Muid menambahkan, forum menegaskan bahwa NU adalah pesantren besar dan pesantren merupakan NU kecil. Oleh karena itu, Muktamar ke-35 sebaiknya diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren untuk meneguhkan kembali ruh, tradisi, dan nilai dasar perjuangan jamiyyah.

Desakan Kembali ke Khitah Pesantren

KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), tokoh yang sempat menginisiasi Presidium Penyelamat Organisasi dan Panitia Muktamar Luar Biasa NU, mendesak agar Muktamar NU dikembalikan ke khitah dengan menempatkannya di lingkungan pondok pesantren. Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang ini menilai pergeseran lokasi muktamar keluar dari pesantren menjadi pintu masuk bagi dominasi praktik politik transaksional.

"Kami mendukung sekali pelaksanaan muktamar NU di pesantren. Pesantren mana pun. Kenapa? Karena tebaran logistik yang mewarnai Muktamar NU dimulai sejak muktamar dilakukan tidak di pesantren," kata Gus Salam. Menurutnya, kesakralan dan wibawa spiritual pesantren mampu menjadi benteng moral bagi warga NU untuk tidak melakukan tindakan transaksional. "Maka kami berharap muktamar ini bisa meminimalisir politik uang, dan salah satunya dengan melaksanakan muktamar di pesantren. Sak nemen-nemen wong NU iku sek ono wedi kualat," ujarnya.

Gus Salam mengusulkan Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil di Bangkalan, Madura, sebagai tempat pelaksanaan Muktamar ke-35. "Pondok yang memiliki sejarah kuat seperti di Bangkalan, tempatnya Mbah Cholil yang merupakan guru dari semua pendiri NU," katanya.

Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), memastikan Muktamar ke-35 NU akan digelar Agustus 2026, namun lokasi belum ditentukan. Banyaknya wilayah yang mengajukan diri membuat PBNU harus melakukan proses kurasi. "Ah, belum diputuskan kalau lokasi muktamar. Tunggu saja, banyak alternatif, banyak juga yang meminta kesediaan menjadi tuan rumah," kata Gus Ipul di sela meninjau proyek Pembangunan Sekolah Rakyat Kedung Cowek Surabaya, Minggu, 3 Mei 2026.