Hari Raya Idul Adha membawa berkah tersendiri bagi para pedagang hewan kurban. Meskipun kondisi ekonomi dinilai sedang menantang, antusiasme masyarakat untuk beribadah kurban tetap tinggi. Para pedagang sapi di Jakarta melaporkan bahwa penjualan mereka tetap stabil bahkan cenderung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Penjualan Sapi Kurban Meningkat Signifikan
M. Said (34), seorang pedagang asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengungkapkan bahwa tahun ini merupakan salah satu musim penjualan terbaik selama ia berjualan. Pemilik lapak di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, ini mengaku telah membawa puluhan ekor sapi langsung dari Bima ke Jakarta. "Kalau untuk pemasaran, paling bagus tahun ini kalau kata saya. Dari total 65 ekor yang saya bawa dari Bima, sekarang sudah masuk di angka 85 ekor karena saya ambil lagi dari teman dan saudara. Sampai hari ini, sisa dua ekor saja," ujar Said saat ditemui di lapaknya pada Sabtu (23/5/2024).
Said yang telah 15 tahun berjualan sapi di wilayah Jabodetabek ini mematok harga yang bervariasi. Sapi Bima miliknya dijual mulai dari harga ekonomis Rp 14 juta untuk bobot 210 kilogram, hingga kelas 'sultan' seharga Rp 80 juta untuk bobot di atas 800 kilogram. "Jakarta ini luar biasa, orang yang berkurban benar-benar banyak. Satu RT saja bisa 5 sampai 6 ekor sapi. Itulah kenapa saya tetap memilih Jakarta meskipun perjalanannya jauh," tutur Said.
Tantangan Distribusi Sapi dari Bima ke Jakarta
Menurut Said, membawa sapi dari Bima ke Jakarta bukanlah perkara mudah. Ia harus menempuh waktu 5-7 hari menggunakan truk tronton melewati Sumbawa, Mataram, Banyuwangi, hingga Jakarta. "Kendala paling di penyeberangan kapal saja, kalau kapalnya sedikit ya agak lambat. Tapi alhamdulillah semua lancar. Sapi-sapi ini juga seolah punya insting, mereka tahu mau dikurbankan, jadi perawatannya tidak terlalu sulit asal kita tenang," cerita Said.
Permintaan Stabil di Tengah Kenaikan Harga
Senada dengan Said, Madun (46), pedagang hewan kurban lainnya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, juga merasakan stabilitas permintaan meskipun harga beli dari pasar mengalami kenaikan. "Penjualan saat ini dianggap normal ya, walaupun harga beliannya naik. Istilahnya ada kenaikan yang lumayan dari pasar atau petani di kampung, tapi minat berkurban tetap besar," kata Madun.
Madun yang tergabung dalam Persatuan Peternak Sapi Perah dan Sapi Potong Jakarta Selatan ini menyediakan sapi dengan rentang harga Rp 22 juta hingga Rp 100 juta. Tahun ini, ia menyiapkan sekitar 50 ekor sapi dan 65 ekor kambing. "Alhamdulillah untuk sapi 99 persen sudah lumayan (terjual), tinggal nunggu diambil. Kambing memang masih sekitar 50 persen, tapi kami optimis tetap laku semua karena banyak yang beli mepet di hari H," tuturnya.
Faktor Ibadah Jadi Pendongkrak Penjualan
Menurut Madun, fenomena tetap tingginya penjualan hewan kurban di tengah isu ekonomi sulit ini dikarenakan faktor niat ibadah. Ia bahkan membandingkan dengan masa pandemi COVID-19 lalu di mana penjualan tetap berjalan tanpa kendala berarti. "Mungkin karena orang niat ibadah ya, jadi berkah. Penurunan mungkin ada sedikit dibandingkan tahun lalu, tapi tidak signifikan, tidak sampai 50 persen," ucapnya.
Dengan antusiasme yang tinggi dari masyarakat Jakarta, para pedagang optimis bahwa penjualan hewan kurban akan terus berjalan lancar hingga hari raya tiba. Mereka berharap tradisi berkurban tetap lestari meskipun tantangan ekonomi terus ada.



