Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menyambut positif rencana pengembangan Bandara Kertajati di Jawa Barat menjadi pusat perawatan, perbaikan, dan overhaul (maintenance, repair and overhaul/MRO) pesawat Hercules/C-130 di Asia. Menurutnya, langkah ini memiliki nilai strategis bagi Indonesia, baik dari sisi peningkatan kapasitas teknis maupun penguatan posisi dalam ekosistem pertahanan kawasan.
Manfaat Strategis bagi Indonesia
Dave menilai fasilitas MRO ini akan memperkuat kesiapan operasional pesawat Hercules yang selama ini berperan penting dalam misi kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan operasi pertahanan. Selain itu, proyek ini berpotensi membuka lapangan kerja baru, meningkatkan keterampilan teknis sumber daya manusia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui transfer pengetahuan dan teknologi.
Kedaulatan Nasional Tetap Prioritas
Dave menegaskan bahwa kedaulatan nasional harus menjadi prinsip utama dalam realisasi rencana ini. Ia menyatakan bahwa setiap kerja sama internasional harus tunduk pada regulasi dan mekanisme yang berlaku di Indonesia. Komisi I DPR RI akan memastikan tidak ada ruang bagi pelanggaran terhadap kepentingan nasional maupun kedaulatan negara.
“Dengan adanya fasilitas ini, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penyedia layanan perawatan yang diakui secara regional. Hal ini meningkatkan daya tawar kita dalam kerja sama internasional dan memperkuat reputasi Indonesia sebagai mitra yang kredibel di bidang pertahanan,” ujar Dave saat dihubungi pada Senin (25/5).
Penjajakan Awal oleh Kemhan
Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebelumnya menyatakan bahwa rencana pengembangan Bandara Kertajati menjadi pusat MRO Hercules masih dalam tahap penjajakan awal. Kepala Biro Informasi dan Humas Setjen Kemhan Brigjen Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa saat ini masih dalam tahap pembahasan dan penjajakan awal, sehingga sifatnya masih proses pengembangan Kertajati sebagai pusat MRO Hercules regional.
Bandara Kertajati dipilih karena memiliki lahan yang luas dan fasilitas memadai. Rico menegaskan bahwa rencana ini bertujuan untuk penguatan kapasitas industri pertahanan dan aviasi nasional, bukan pembangunan pangkalan militer asing.
“Agar Indonesia ke depan memiliki kemampuan maintenance pesawat angkut strategis yang lebih mandiri dan dapat berkembang menjadi hub regional secara bertahap. Jadi ini lebih kepada pengembangan kemampuan teknis dan industri, bukan pembangunan pangkalan militer asing,” ujarnya.
Latar Belakang Rencana
Rencana ini sebelumnya diungkap oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat dengan Komisi I DPR RI pada Selasa (19/5). Dalam rapat tersebut, Sjafrie menceritakan pertemuannya dengan Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth pada tahun lalu. Pete menawarkan untuk memusatkan pemeliharaan C-130 di seluruh Asia di Indonesia atas biaya AS.
“Dia menawarkan, dan ini tidak ada di negara ASEAN, dia menawarkan bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami,” kata Sjafrie dalam rapat.
Sjafrie mengatakan tidak langsung menjawab tawaran itu dan melaporkannya ke Presiden Prabowo Subianto. “Saya lapor Bapak Presiden, kasih Kertajati. Kita sedang bekerja untuk itu,” katanya.



